Ragam  

Kisah Asiyah, Istri Firaun yang Beriman dan Jadi Penghuni Surga

Ilustrasi bayi hanyut di sungai. (Foto: Net)

Subang, tiradar.id – Kisah ini bermula dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada ibu nabi Musa untuk memasukkan bayi (Musa) ke peti dan menghanyutkannya ke sungai Nil, lalu sungai itu membawanya ke tepi dan ditemuka oleh istri Fir’aun.

Setelah istri Fir’aun membuka peti tersebut, ia melihat wajah bayi (Musa) yang bersinar cerah dengan cahaya kenabian. Pada saat melihatnya, ia begitu menyukai dan mencintainya. Musa kecil kemudian diasuh oleh istri Fir’aun yang merupakan manusia ingkar dan sombong.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Fir’aun; ‘(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak’, sedang mereka tiada menyadari”. (QS. Al Qhashas: 8-9)

Lalu ketika Fir’aun datang, dia bertanya, ‘Apa ini?’ dan memerintahkan agar anak itu dibunuh, istrinya meminta anak itu kepada Fir’aun dan membelanya, dengan mengatakan,’Ia adalah penyejuk hati bagiku dan bagimu, janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak’.

Kemudian Fir’aun berkata kepadanya, ‘Bagimu mungkin bermanfaat, namun bagiku tidak. Maksudnya, aku tidak membutuhkan dan tidak ada kepentingan dengannya’. Ucapan Asiyah, “Mudah-mudahan anak ini bermanfaat bagi kita”, ucapan ini sudah menjadi nyata.

Allah telah menganugrahkan manfaat yang diharapkannya itu. Di dunia, ia mendapatkan petunjuk melalui anak tersebut, sedangkan di akhirat, ia menempati surga juga karenanya.

Setelah nabi Musa dewasa, ketika terjadi pertarungan antara tukang sihir Fir’aun dengan Nabi Musa, Asiyah ikut menyaksikan seraya berdoa kepada Allah untuk kemenangan Musa melawan Fir’aun dan tukang sihirnya.

Pengikut Fir’aun yang melihatnya menyangka bahwa dia mencurahkan perhatiannya karena rasa simpatinya terhadap Fir’aun dan pengikutnya, padahal sesungguhnya kegundahannya dan harapan (kemenangan) hanya kepada Musa.

Fir’aun kemudian mengetahui keimanan istrinya (Asiyah) dan bergegas keluar menemui para pembesarnya, dia berkata kepada mereka, “Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah”. Mereka pun memuji dan menyebutkan kebaikannya (Asiyah).

Maka Fir’aun berkata; “Sesungguhnya dia beribadah kepada tuhan selain aku.” Kemudian para pembesarnya mengatakan, “Kalau begitu bunuh saja dia!” Lalu disiapkan baginya tiang-tiang pasak kemudian kedua tangan dan kakinya diikat.

Asiyah kemudian berdoa; “Wahai Rabbku! Bangunkan untukku disisi-Mu rumah di surga.” Dan Fir’aun datang ketika Asiyah sedang tertawa karena diperlihatkan rumahnya di Surga.

Maka Fir’aun berkata, “Apakah kalian tidak heran melihat kegilaannya.Kita menyiksanya namun dia malah tertawa.”

Ketika para utusan Fir’aun datang, Asiyah mengangkat pandangannya ke langit dan melihat rumahnya di Surga maka dia tetap dalam keimanannya lalu nyawanya dicabut. Para utusan itu menimpakan batu besar ke jasad Asiyah yang sudah tak bernyawa (wafat).(*)