Bisnis  

Pemilu dan Pilkada Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Atas 5 Persen

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi Bambang Brodjonegoro menjadi pembicara dalam acara Starting Year Forum 2025 di Jakarta, Selasa (4/2/2025). ANTARA/Uyu Septiyati Liman/aa.

Jakarta, tiradar.id – Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi sekaligus ekonom senior, Bambang Brodjonegoro, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2024 tetap berada di atas 5 persen. Faktor utama yang mendorong pertumbuhan ini adalah penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan kepala daerah (pilkada).

Dampak Pemilu dan Pilkada terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Dalam pernyataannya di Jakarta pada Selasa (4/2), Bambang menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun lalu didukung oleh berbagai peristiwa ekonomi dalam negeri, terutama pemilu yang berlangsung pada Februari 2024 serta pilkada serentak pada November 2024. Ia menegaskan bahwa faktor politik ini berperan penting dalam menjaga angka pertumbuhan ekonomi tetap di atas 5 persen.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I mencapai 5,11 persen, diikuti 5,05 persen pada triwulan II, serta 4,95 persen pada triwulan III. Sementara itu, ekonomi Indonesia pada semester I 2024 tercatat tumbuh 5,08 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Bambang menjelaskan bahwa pemilu legislatif serta pemilihan presiden dan wakil presiden yang berlangsung pada Februari 2024 memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di semester I. Sementara itu, pilkada serentak pada November 2024 juga menjadi faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi pada semester II.

“Kita tertolong di 2024 ini oleh pemilihan dan pemilihannya tidak hanya sekali, tetapi dua kali, yakni pemilu legislatif pada bulan Februari yang berdampak pada pertumbuhan semester I, serta pilkada yang memberikan efek serupa pada semester II,” ujarnya.

Peran Hari Besar Keagamaan dan Kondisi Global

Selain faktor pemilu dan pilkada, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga didukung oleh perayaan hari-hari besar keagamaan. Bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri pada semester I serta perayaan Natal pada semester II turut mendorong aktivitas ekonomi dalam negeri.

Bambang menambahkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia pada tahun lalu lebih banyak ditopang oleh kegiatan ekonomi domestik. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global serta harga komoditas yang tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.

“Ketika harga komoditas tidak dalam puncaknya atau booming, maka perekonomian kita akan sangat bergantung pada berbagai event, baik yang rutin seperti Lebaran, Ramadan, dan Natal, maupun yang bersifat non-rutin seperti pemilu yang terjadi setiap lima tahun sekali,” jelasnya.

Dengan kombinasi berbagai faktor tersebut, perekonomian Indonesia tetap mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen sepanjang tahun 2024. Pengumuman resmi mengenai pertumbuhan ekonomi pada semester II 2024 serta keseluruhan tahun 2024 dijadwalkan akan disampaikan oleh BPS pada Rabu (5/2).