Jakarta, tiradar.id – Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (16/5), ditopang oleh sentimen positif dari harapan kesepakatan baru antara AS dan sejumlah negara Asia terkait persoalan tarif perdagangan.
Menurut analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, penguatan rupiah sejalan dengan tren positif sejumlah mata uang Asia lainnya, seperti won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan yen Jepang. Ia menyebutkan bahwa ekspektasi tercapainya kesepakatan baru dalam negosiasi perdagangan dengan AS menjadi pemicu utama penguatan tersebut.
“Rupiah dan mata uang Asia pada umumnya menguat terhadap dolar AS oleh harapan kembali terjadinya kesepakatan baru negara-negara Asia dengan AS,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta.
Mengutip Anadolu Agency, Jepang dikabarkan telah mengusulkan kerja sama pembuatan kapal dengan AS sebagai bagian dari negosiasi yang tengah berlangsung. Usulan tersebut dipandang sebagai strategi Jepang untuk menekan tarif impor AS yang saat ini mencapai 25 persen untuk mobil dan 24 persen untuk berbagai produk lainnya dari Negeri Sakura.
Sementara itu, Korea Selatan menyatakan akan melanjutkan proses negosiasi dengan AS secara tertib. Negeri Ginseng saat ini tengah menghadapi tarif 25 persen dari AS, yang sementara diturunkan menjadi 10 persen selama 90 hari hingga 8 Juli 2025.
Adapun Taiwan dikenai tarif sebesar 32 persen yang kemudian juga dikurangi menjadi 10 persen untuk jangka waktu yang sama. Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan melakukan aksi balasan terhadap tarif tersebut, melainkan akan meningkatkan impor dari AS serta mendorong investasi ke negara tersebut sebagai upaya memperbaiki defisit perdagangan AS.
Lukman menambahkan bahwa terdapat spekulasi bahwa AS mendorong negara-negara mitranya untuk memperkuat mata uang mereka sebagai bagian dari syarat kesepakatan dagang, guna menekan potensi manipulasi mata uang yang selama ini kerap menjadi sorotan Negeri Paman Sam.
“Selama ini AS sering menuduh negara-negara dengan surplus perdagangan tinggi sebagai currency manipulator,” ungkapnya.
Sejalan dengan sentimen tersebut, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis menguat sebesar 33 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.529 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.562 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan, yakni ke level Rp16.535 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.568 per dolar AS.
Penguatan ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi nasional, meski pelaku pasar tetap diminta mewaspadai dinamika global yang masih rentan berubah.
Sumber: ANTARA


