Pavel Durov Ungkap Alasan AI China Ungguli Amerika

Pavel Durov. Foto: Instagram @durov

Jakarta, tiradar.id – Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, turut memberikan pandangannya terkait kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) di China, terutama dengan kemunculan DeepSeek yang mengejutkan dunia teknologi belakangan ini. Menurutnya, keunggulan China dalam bidang AI berakar dari sistem pendidikan mereka yang sangat kompetitif.

Dalam sebuah unggahan di akun Telegram pribadinya, Durov mengungkapkan bahwa pelajar China sejak lama telah menunjukkan prestasi gemilang dalam berbagai olimpiade matematika dan pemrograman. Ia menilai, hal ini merupakan hasil dari sistem pendidikan China yang menekankan persaingan ketat, terutama dalam bidang sains dan matematika.

“Hal ini mendorong terjadinya persaingan yang ketat di antara para pelajar, sebuah prinsip yang dipinjam dari model Soviet yang sangat efisien,” ujar Durov.

Sebaliknya, Durov menilai sistem pendidikan di negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, justru kurang mendukung kompetisi. Ia mengkritik kebijakan yang melarang pengumuman nilai dan peringkat siswa secara publik dengan alasan untuk melindungi siswa dari tekanan atau ejekan. Menurutnya, meskipun alasan tersebut dapat dimengerti, kebijakan tersebut justru melemahkan motivasi siswa yang memiliki potensi besar.

“Kemenangan dan kekalahan adalah dua sisi mata uang yang sama. Jika persaingan dihilangkan, motivasi juga ikut hilang,” tambahnya.

Durov juga menyoroti bahwa tanpa adanya transparansi dalam peringkat akademik, banyak siswa berbakat yang akhirnya mencari tantangan di bidang lain, seperti permainan video kompetitif, alih-alih berfokus pada akademik.

“Tidak mengherankan bahwa banyak anak berbakat sekarang menganggap permainan kompetitif lebih menarik daripada akademis – setidaknya dalam permainan video, mereka dapat melihat peringkat setiap pemain,” jelasnya.

Sebagai bukti nyata, Durov menyoroti tolok ukur AI yang menunjukkan keunggulan DeepSeek sebagai contoh pemeringkatan publik yang dapat memotivasi perkembangan teknologi. Ia memperingatkan bahwa jika sistem pendidikan menengah di Amerika Serikat tidak mengalami reformasi besar-besaran, maka dominasi China dalam teknologi akan semakin sulit untuk dikalahkan.

“Kecuali jika sistem pendidikan menengah AS mengalami reformasi radikal, dominasi China yang semakin meningkat dalam teknologi tampaknya tak terelakkan,” pungkas Durov.