Jakarta, tiradar.id – Papua Nugini tengah menghadapi salah satu bencana alam terburuk dalam sejarahnya setelah tanah longsor melanda Provinsi Enga pada Jumat (24/05). Jumlah korban hilang dikhawatirkan mencapai lebih dari 2.000 orang, berdasarkan laporan dari pejabat badan penanggulangan bencana setempat.
Upaya Pencarian dan Evakuasi
Sejak bencana terjadi, penduduk desa terus menggali reruntuhan dengan harapan menemukan korban yang selamat. Namun, hingga Senin (27/05), hanya belasan korban yang berhasil ditemukan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sedikitnya 670 orang masih hilang. Proses evakuasi terhambat oleh reruntuhan tanah longsor yang mencapai kedalaman 10 meter di beberapa lokasi dan kurangnya peralatan yang memadai.
Ketua Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di Papua Nugini, Serhan Aktoprak, menyatakan dampak bencana ini jauh lebih parah dari perkiraan sebelumnya. “Diperkirakan ada lebih dari 150 rumah yang kini terkubur,” kata Aktoprak.
Dampak dan Lokasi Bencana
Tanah longsor terjadi di daerah dataran tinggi Enga, bagian utara Papua Nugini yang berbatasan dengan wilayah timur Indonesia. Hingga saat ini, sekitar 1.250 orang telah mengungsi. Pemerintah Papua Nugini belum meminta bantuan dari negara lain meskipun skala kerusakan yang begitu besar.
Menurut laporan, bencana ini dipicu oleh hujan deras yang mengakibatkan runtuhnya sisi gunung pada pukul 03.00 waktu setempat. Kerusakan meluas hingga hampir satu kilometer, mengubur banyak rumah dan menyebabkan ratusan orang terjebak di bawah reruntuhan.
Tantangan dalam Operasi Penyelamatan
Upaya penyelamatan korban sangat sulit karena kondisi medan yang berbahaya dan akses jalan yang terputus. Hanya ada satu jalan utama menuju Provinsi Enga yang kini tertutup. Pejabat lokal dan tim penyelamat terus berusaha untuk menjangkau dan menyelamatkan korban yang masih hidup.
Amos Akem, anggota parlemen Provinsi Enga, melaporkan bahwa tanah longsor ini mengubur lebih dari 300 orang dan merusak 1.182 rumah. Upaya penyelamatan juga terhambat oleh kekhawatiran akan tanah longsor susulan yang bisa terjadi kapan saja.
Respon Internasional dan Bantuan
Pemerintah Papua Nugini, bekerja sama dengan pejabat setempat, berupaya memberikan bantuan darurat, pemulihan jenazah, dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam bencana tersebut. KBRI Port Moresby terus memantau situasi di lapangan.
Presiden AS, Joe Biden, telah menyatakan kesiapannya untuk membantu Papua Nugini dalam penanganan bencana ini. Hubungan antara AS dan Papua Nugini telah diperkuat melalui perjanjian pertahanan yang ditandatangani tahun lalu, yang memungkinkan kerjasama lebih lanjut dalam situasi darurat seperti ini.
Bencana tanah longsor di Papua Nugini merupakan tragedi besar yang membutuhkan perhatian dan bantuan internasional. Upaya penyelamatan terus dilakukan meskipun menghadapi banyak kendala. Dukungan dari komunitas global sangat penting untuk membantu negara ini pulih dari bencana yang menghancurkan.


