Jakarta, tiradar.id – Perselingkuhan sering kali menjadi topik yang kompleks dan kontroversial, dengan banyak alasan yang disampaikan oleh pelakunya untuk membenarkan perilaku mereka. Namun, sebuah studi baru-baru ini mengungkapkan bahwa ada satu faktor yang dapat mempengaruhi bahkan mendorong terjadinya perselingkuhan, yaitu faktor lingkungan.
Faktor Lingkungan dan Pengaruhnya
Gurit Birnbaum, seorang psikolog dari Baruch Ivcher School of Psychology di Israel, menjelaskan bahwa lingkungan sekitar dapat mempengaruhi seseorang untuk berselingkuh. Menurut Birnbaum, lingkungan yang memberi kesan bahwa perselingkuhan adalah hal yang wajar bisa membuat individu merasa tidak ada salahnya jika mereka juga melakukan hal yang sama.
Penelitian yang dipublikasikan di Archives of Sexual Behavior tersebut menunjukkan bahwa lingkungan yang mendukung atau memperlihatkan perselingkuhan sebagai sesuatu yang biasa dapat mempengaruhi pola pikir seseorang. Dalam lingkungan seperti ini, individu mungkin merasa tertarik dan mulai mempertimbangkan untuk berselingkuh.
Pengaruh Teman Sebaya
Salah satu poin penting yang disampaikan oleh Birnbaum adalah pengaruh teman sebaya. “Lingkungan teman sebaya yang memberi kesan bahwa perselingkuhan itu adalah hal wajar bisa membuat seseorang tertarik dan mempertimbangkan untuk berselingkuh,” kata Birnbaum. Namun, ia juga menekankan bahwa lingkungan di mana perselingkuhan merajalela tidak serta merta mengubah seseorang menjadi pelaku perselingkuhan. Faktor ini lebih berperan sebagai pemicu bagi mereka yang sudah rentan terhadap perselingkuhan atau ketika peluang untuk berselingkuh muncul.
Dilema Moral dan Godaan
Individu yang berada di lingkungan yang mendukung perselingkuhan sering kali menghadapi dilema moral. Mereka berada di antara dua pilihan: mengikuti nilai-nilai moral yang mereka anut atau mengalah pada godaan yang ada. Dalam studi ini, peneliti mengeksplorasi apakah paparan cerita dan contoh perselingkuhan dapat menurunkan komitmen kesetiaan.
Penurunan Komitmen Kesetiaan
Penelitian ini melibatkan tiga studi di mana reaksi subjek diamati setelah diperlihatkan contoh kasus orang yang berselingkuh. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah terpapar tindakan pengkhianatan, komitmen kesetiaan peserta terhadap hubungan mereka menurun. Selain itu, peserta juga menunjukkan keinginan yang lebih besar untuk berselingkuh.
“Lingkungan yang mendorong prevalensi perselingkuhan yang lebih besar bisa membuat orang lebih rentan terhadap perselingkuhan,” kata Birnbaum. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana faktor eksternal, seperti lingkungan sosial, dapat mempengaruhi perilaku individu dalam hubungan romantis.
Studi ini menyoroti pentingnya faktor lingkungan dalam mempengaruhi perilaku perselingkuhan. Meskipun lingkungan tidak secara langsung mengubah seseorang menjadi pelaku perselingkuhan, lingkungan yang memberi kesan bahwa perselingkuhan adalah hal yang wajar dapat menjadi pemicu bagi individu yang rentan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung nilai-nilai kesetiaan dan komitmen dalam hubungan.
Sumber: CNBC Indonesia

