Subang, tiradar.id — Sektor pertanian Kabupaten Subang mencatatkan terobosan penting dalam efisiensi produksi pangan berbasis agriteknologi tinggi. Kolaborasi strategis antara Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Subang bersama Politeknik Negeri Subang (POLSUB) berhasil mengaplikasikan Teknologi Hidroponik Machida pada budidaya melon. Langkah inovatif ini terbukti mampu melipatgandakan hasil panen hingga 13 kali lipat sekaligus memperkuat daya saing destinasi agrowisata daerah.
Keberhasilan inovasi agriteknologi ini ditandai melalui agenda Diseminasi Hasil Penelitian dan Panen Raya yang digelar di Taman Wisata Melon SP Farm, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Sagalaherang, Rabu (22/7/2026). Inisiatif ini membuktikan bahwa riset terapan kampus mampu menjawab tantangan riil produktivitas lahan dan peningkatan pendapatan petani di tingkat tapak.
Ketua Tim Peneliti Penerapan Teknologi Machida sekaligus Dosen Jurusan Pertanian POLSUB, Fitri Audia, menjelaskan bahwa kunci utama Teknologi Hidroponik Machida terletak pada optimalisasi dan rekayasa media akar. Dengan ruang perakaran yang lebih luas dan responsif, metabolisme tanaman melon terstimulasi untuk menopang jumlah buah yang jauh lebih banyak tanpa mengorbankan kualitas nutrisi.
“Sebagai akademisi kami bersyukur karena penelitian ini dapat diterapkan langsung di masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Bapperida, teknologi ini bekerja dengan mengembangkan media akar yang lebih luas, sehingga kemampuan tanaman menutrisi buah meningkat tajam. Hasilnya, satu tanaman melon dapat menghasilkan rata-rata 13 hingga 17 buah dengan kualitas rasa yang lebih konsisten,” ujar Fitri di sela kegiatan panen raya.
Fitri menegaskan, komitmen utama akademisi adalah memastikan produk ilmiah tidak berhenti di lembaran jurnal ilmiah, melainkan dirasakan manfaatnya secara nyata oleh kelompok tani mitra, seperti Kelompok Tani Karya Jaya.
Dampak teknis riset ini dirasakan langsung oleh petani lokal. Kepala Desa Dayeuhkolot, Budiman, yang juga terjun langsung sebagai petani pengelola dalam Kelompok Tani Karya Jaya, mengutarakan optimismenya terhadap prospek ekonomi sistem ini.
Menurut Budiman, metode konvensional biasanya hanya mampu menyisakan 1 hingga 2 buah melon per pohon agar ukurannya ideal. Namun, dengan hidroponik Machida, batasan tersebut berhasil dipatahkan. Pada uji coba awal, hasil panen meningkat signifikan dari kisaran 40–42 buah menjadi sekitar 66 buah pada area sampel, dan terus disempurnakan.
“Jika konvensional hanya 1–2 buah, dengan sistem hidroponik Machida bisa mencapai sekitar 13 buah per pohon. Ini peningkatan produktivitas yang luar biasa dan memberikan harapan baru bagi petani. Saat ini hasil panen dipasarkan Rp35.000 per kilogram, dan masyarakat bisa menikmati pengalaman wisata petik melon langsung di Agrowisata Melon SP Farm,” ungkap Budiman.
Dari segi kualitas sensori, melon hasil metode Machida menawarkan keunggulan yang berbeda dibandingkan melon pada umumnya. Kepala Bapperida Kabupaten Subang, Iwan Syahrul Anwar, menggarisbawahi keunikan tekstur renyah (crunchy) yang dipadu dengan rasa manis konsisten.
“Saya mendapatkan pengalaman baru saat mencicipi melon ini. Biasanya melon identik dengan rasa manis dan berair, tetapi melon metode Machida memiliki sensasi renyah saat digigit dan tetap manis. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan nutrisi serta media tanam menjadi faktor kunci dalam menghasilkan buah berkualitas tinggi,” tutur Iwan.
Iwan Syahrul Anwar menilai keberhasilan riset ini sebagai cerminan nyata dari konsep Pentahelix—sinergi harmonis antara pemerintah daerah, akademisi, kelompok tani, pelaku agrowisata, dan masyarakat.
“Kolaborasi ini menjadi contoh konkret bagaimana pentahelix bekerja. Pemerintah menghadirkan program riset, akademisi menemukan komoditas unggulan melalui penelitian, lalu hasilnya diterapkan langsung oleh masyarakat melalui kelompok tani. Penguatan ekosistem inovasi seperti ini sangat penting untuk menjawab tantangan ketahanan pangan dan pengembangan agrowisata berbasis teknologi di Subang,” jelas Iwan.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur POLSUB, Oyok Yudiyanto, menambahkan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada tonase produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah estetis (agritourism visual appeal).
“Dengan adanya teknologi ini, efisiensi dan efektivitas hasil pertanian meningkat. Selain produktivitas, tampilan buah melon yang rapi dan menarik menjadi faktor penting untuk memikat wisatawan dalam konsep agrowisata. Potensi pengembangan ini masih sangat besar, terutama jika diterapkan pada lahan yang lebih luas,” ujar Oyok.
Prospek Masa Depan & Skalabilitas
Pemerintah Kabupaten Subang bersama POLSUB berkomitmen untuk melanjutkan penelitian tahap berikutnya guna mengoptimalkan potensi ganda teknologi Machida—baik sebagai penyokong ketahanan pangan daerah maupun sebagai penggerak roda ekonomi agrowisata.
Melalui model pertanian modern yang produktif, efisien, dan bernilai tambah ini, Subang kian optimistis menegaskan posisinya sebagai lumbung pangan inovatif berbasis riset di Jawa Barat.


