Pemerintah Minta Maaf, Kasus Keracunan Program MBG Tembus 5.600

Anak yang didugah keracunan usai menyantap MBG di Subang | Foto: Ist.

Jakarta, tiradar.id – Pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan permintaan maaf atas terjadinya kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, permintaan maaf tersebut dinilai harus dibarengi dengan langkah evaluasi serius dan transparansi penuh, termasuk oleh Badan Gizi Nasional (BGN) selaku pelaksana teknis.

Hingga pertengahan September 2025, jumlah kasus keracunan akibat menu MBG telah mencapai lebih dari 5.600 kasus. Bahkan, di Kabupaten Bandung Barat pada akhir September, lebih dari 1.000 siswa mengalami keracunan massal.

Sejak diluncurkan pada awal tahun, insiden serupa terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini memunculkan desakan agar tata kelola MBG segera diperbaiki, mengingat program tersebut menyerap anggaran lebih dari Rp300 triliun. Selain menyangkut efisiensi penggunaan anggaran negara, persoalan keselamatan manusia menjadi hal yang utama.

Presiden Panggil Kepala BGN

Sepulang dari lawatan kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto langsung memanggil Kepala BGN Dadan Hindayana pada Sabtu malam (27/9/2025). Presiden menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh serta perbaikan tata kelola agar program dapat berjalan sesuai tujuan.

“Program MBG ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Jangan sampai justru menimbulkan respon negatif dari publik,” ujar Presiden.

Menunda sementara pelaksanaan MBG disebut menjadi opsi yang tengah dipertimbangkan, demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

Dapur Belum Sesuai Standar

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, mengakui masih banyak dapur penyedia menu MBG yang belum memenuhi standar kelayakan. Kondisi ini memicu tuntutan agar pemerintah segera melakukan penindakan terhadap pihak-pihak yang lalai, bahkan mencoba mengambil keuntungan sepihak dengan mengorbankan kualitas dan keamanan makanan.

Pengawasan terbuka dari berbagai pihak dinilai penting untuk memastikan perbaikan tata kelola berjalan dengan baik. Pemerintah pun diingatkan agar tidak lagi bersembunyi di balik alasan bahwa jumlah penerima yang tidak keracunan lebih banyak daripada yang menjadi korban.

Langkah perbaikan dan pengawasan ketat diharapkan dapat menyelamatkan tujuan utama program MBG, yaitu memperbaiki gizi anak-anak, remaja, ibu hamil, dan menyusui di seluruh Indonesia.