Jakarta, tiradar.id – Jakarta memiliki beragam tradisi yang tetap lestari seiring waktu, salah satunya adalah kebiasaan berburu ikan bandeng menjelang Tahun Baru Imlek. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat Tionghoa di Jakarta, tetapi juga melekat dalam kehidupan warga Betawi.
Selama puluhan tahun, Ekawati, seorang warga Jakarta keturunan Tionghoa berusia 70-an tahun, menjalankan rutinitas berburu ikan bandeng setiap Imlek. Tahun ini, ia membawa pulang sekitar 15 kilogram ikan bandeng dari pasar ikan di Rawa Belong, Jakarta Barat. Ikan tersebut diolah menjadi pindang atau pepes untuk disantap bersama keluarga, digunakan dalam sembahyang, dibawa ke makam, atau disajikan kepada tamu.
Menurut Ekawati, tradisi ini telah diwariskan turun-temurun. “Setiap Imlek harus menyajikan tiga jenis daging, yakni ayam, daging babi, dan ikan bandeng,” ujarnya.
Namun, kebiasaan berburu ikan bandeng saat Imlek tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga oleh warga Betawi. Dalam budaya Betawi, ikan bandeng sering dijadikan hantaran bagi keluarga, tetangga, atau sebagai buah tangan dari menantu kepada mertuanya.
“Kalau di keluarga kami, bandengnya akan dipakai untuk pengajian saat bulan ‘Ruwah’ sebelum Ramadan,” kata Fatma, seorang pembeli yang ditemui di pasar ikan Rawa Belong.
Jalan Sulaiman di Rawa Belong telah menjadi pusat penjualan ikan bandeng menjelang Imlek selama puluhan tahun. Pasar ini hanya muncul sepekan sebelum Imlek dan khusus menjual ikan bandeng segar.
Candra Jap, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), menjelaskan bahwa kebiasaan makan ikan bandeng saat Imlek terutama ditemukan di komunitas Tionghoa di Jakarta dan sekitarnya. Tradisi ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan “nganter bandeng” dalam masyarakat Betawi, yakni memberi ikan bandeng sebagai hantaran dari calon menantu kepada calon mertua.
Para pedagang di Rawa Belong, seperti Evi yang telah berjualan selama belasan tahun, bisa menjual hingga 300 kilogram ikan bandeng dalam sehari saat kondisi ramai. “Pembeli kebanyakan ibu rumah tangga yang membeli beberapa ekor, tapi ada juga perusahaan yang membeli hingga puluhan kilogram,” ungkapnya.
Ikan bandeng tidak sekadar menjadi makanan khas Imlek, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam bahasa Mandarin, kata “ikan” (鱼, yú) memiliki pelafalan yang mirip dengan kata “berlimpah” (余, yú), yang melambangkan keberuntungan dan kesejahteraan.
Selain itu, banyaknya duri pada ikan bandeng melambangkan kehidupan yang harus dijalani dengan kesabaran dan kehati-hatian. Filosofi ini mencerminkan nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan dalam budaya Tionghoa.
Tahun ini, tradisi berburu ikan bandeng semakin semarak dengan adanya “Festival Bandeng Rawa Belong” yang digelar pada 27-28 Januari 2025. Acara ini diinisiasi oleh pemerintah setempat untuk melestarikan tradisi sekaligus mengembangkan ekonomi lokal melalui partisipasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Teguh Setyabudi, menegaskan bahwa festival ini menjadi simbol kebersamaan serta penghormatan terhadap warisan budaya yang kaya makna. “Tradisi ini mencerminkan kebersamaan dan penghormatan terhadap budaya yang penuh makna,” ujarnya dalam acara pembukaan festival.
Tradisi berburu ikan bandeng saat Imlek menjadi bukti bahwa masyarakat Tionghoa dan Betawi telah lama hidup berdampingan dan saling memengaruhi dalam berbagai aspek, termasuk budaya, seni, dan kuliner. Keberagaman ini memperkaya Jakarta sebagai kota yang multikultural, di mana tradisi-tradisi warisan nenek moyang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
