Ragam  

Dokter Mata di Bali Kenalkan Teknologi SMILE untuk Atasi Mata Minus dan Silinder

Pengunjung memeriksakan kesehatan mata gratis di salah satu pusat perbelanjaan di Denpasar, Bali, Sabtu (12/10/2024) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Denpasar, tiradar.id – Dokter spesialis mata di Denpasar, Bali, Dr. Cokorda Istri Dewiyani Pemayun memperkenalkan teknologi terbaru untuk mengatasi kelainan refraksi seperti mata minus dan silinder tanpa perlu menggunakan kacamata atau lensa kontak.

Teknologi ini disebut dengan Small Incision Lenticule Extraction (SMILE), yang memungkinkan prosedur pengobatan kelainan mata hanya dalam satu langkah melalui laser, dengan waktu operasi yang sangat singkat.

“Kelainan mata dapat diatasi dalam satu prosedur laser yang bekerja dalam hitungan detik, dengan total operasi sekitar lima hingga 10 menit untuk satu mata,” ujar Dr. Dewiyani Pemayun pada Sabtu (12/10/2024) di Denpasar.

Proses SMILE menggunakan laser dengan sayatan kecil sekitar 2-4 milimeter, sehingga pemulihannya tergolong cepat dan tidak menimbulkan rasa nyeri. Menurut Dewiyani, metode ini merupakan generasi terbaru dari prosedur lasik yang memerlukan dua langkah untuk menangani kelainan refraksi.

Sebagai Ketua Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Provinsi Bali, Dewiyani berharap teknologi ini, yang tersedia di Klinik Mata Utama JEC Denpasar, dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin banyak mengalami masalah refraksi mata. Kelainan refraksi seperti mata minus, mata plus, dan silinder sering kali membuat mata sulit untuk fokus pada objek.

Ia menjelaskan bahwa mata minus disebabkan oleh panjangnya sumbu bola mata, sehingga sinar yang masuk jatuh di depan retina. Sementara pada mata plus, sinar jatuh di belakang retina, dan pada mata silinder, sinar yang masuk menyebar sehingga menyebabkan objek terlihat buram.

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 50 persen individu di seluruh dunia diperkirakan mengalami mata minus atau silinder, terutama akibat penggunaan gawai yang berkepanjangan.

Meskipun teknologi SMILE ini memberikan harapan baru, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh pasien, seperti berusia di atas 18 tahun, tidak sedang hamil atau menyusui, dan tidak memiliki riwayat penyakit mata lainnya. Teknologi ini dapat menangani minus hingga -10 dan silinder hingga -5.

Senada dengan Dewiyani, Dr. Ni Luh Diah Pantjawati, konsultan mata di Klinik Mata JEC Denpasar, menambahkan bahwa masalah mata minus dan silinder kini juga banyak dialami oleh anak-anak. Oleh karena itu, ia mengimbau orang tua untuk membatasi penggunaan gawai pada anak-anak dan mengajak mereka beraktivitas di luar ruangan, seperti melihat pemandangan hijau di sawah atau pantai, yang baik untuk perkembangan otot mata.

Dr. Pantjawati juga menyarankan agar jarak pandang aman dari gawai atau televisi adalah sekitar 30 cm, dengan durasi yang disesuaikan usia, maksimal satu hingga dua jam. Ia menekankan pentingnya teknik membaca 20:20:20, yaitu setelah 20 menit membaca, beristirahat selama 20 detik untuk melihat sejauh 20 kaki (sekitar enam meter), guna menjaga kesehatan mata.

Gaya hidup sehat dengan minim penggunaan gawai dan lebih banyak aktivitas luar ruangan, terutama melihat pemandangan hijau, sangat penting untuk menjaga kesehatan mata, khususnya bagi anak-anak yang dalam masa perkembangan motorik mata.

Sumber: ANTARA