Ragam  

Shalat Meminta Hujan, Inilah Sejarah dan Tata Cara Shalat Istisqa

Shalat istisqa meminta hujan. (Foto: Detik.com)

Subang, tiradar.id – Shalat istisqa hukumnya sunnah muakkad atau sangat ditekankan ketika terjadi musim kemarau atau kekeringan, karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memerintahkan hal tersebut.

Istisqa secara bahasa artinya permohonan meminta hujan. Istisqa disebutkan dalam hadits dengan ‘istisqa’ yang berarti diturunkannya hujan kepada sebuah negeri atau kepada orang-orang.

Di kalangan ulama ahli fiqih, sudah dipahami jika disebut shalat istisqa, yang dimaksud adalah permohonan diturunkannya hujan kepada Allah, bukan kepada makhluk.

Secara syariat, ulama mendefinisikan istisqa; “Meminta hujan kepada Allah, ketika terjadi kekeringan, dengan aturan dan tata cara tertentu”. (Fathul Bari, 2:492)

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiallahu anha, ia berkata; Orang-orang mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu berkata, “Rasulullah keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau bertakbir dan memuji Allah Ta’ala, lalu bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian” Kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan”. (QS. Al-Fatihah: 2-4). Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).” Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no.1173)

Ibnu Abdil Barr berkata: “Para ulama telah berijma bahwa keluar beramai-ramai untuk shalat istisqa di luar daerah dengan doa dan memohon kepada Allah untuk menurunkan hujan ketika musim kemaran dan kekeringan melanda hukumnya adalah sunnah, yang telah disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam tanpa ada perbedaan pendapat diantara para ulama dalam hal ini”. (At Tamhid, 17/172)

Shalat istisqa memohon kepada Allah agar diturunkan hujan berdasarkan apa yang ditetapkan oleh syari’at, dapat dilakukan dengan beberapa cara;

Pertama, dibolehkan shalat istisqa dengan berjama’ah ataupun sendirian. (Al Ihkam Syarh Ushulil Ahkam, Ibnul Qasim, 1/504)

Kedua, berdoa setelah shalat atau berdoa sendirian tanpa didahului shalat. Para ulama berijma akan bolehnya hal ini.(Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi 6/439, Al Inshaf 5/436, Al Mughni 3/348).

Ketiga, imam shalat Jum’at memohon kepada Allah agar diturunkan hujan dalam khutbahnya. Para ulama berijma bahwa hal ini disunnahkan senantiasa diamalkan oleh kaum muslimin sejak dahulu dan pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam.

Diriwayatkan dari sahabat Anas Bin Malik Radhiallahu anhu, ia berkata; Seorang lelaki memasuki masjid pada hari jum’at melalui pintu yang searah dengan daarul qadha. Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam sedang berkhutbah dengan posisi berdiri. Lelaki tadi berkata: ‘Wahai Rasulullah, harta-harta telah binasa dan jalan-jalan terputus (banyak orang kelaparan dan kehausan). Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan!’. Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan: Allahumma aghitsna (3x). Anas berkata: ‘Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan tebal maupun yang tipis. Awan-awan juga tidak ada di antara tempat kami, di bukit, rumah-rumah atau satu bangunan pun”. Anas berkata, “Tapi tiba-tiba dari bukit tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan pun menyebar dan hujan pun turun”. Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari’” (HR. Bukhari no.1014, Muslim no.897)

Demikian sekilas tentang hukum dan cara shalat istisqa sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.(*)