Subang, tiradar.id – Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan keistimewaan pada kota Mekah dan Madinah dengan tidak akan dimasuki oleh Dajjal menjelang hari Kiamat.
Diharamkan kepada Dajjal untuk memasuki Mekah dan Madinah ketika dia keluar di akhir zaman, adapun negeri-negeri lainnya, maka sesungguhnya Dajjal akan memasukinya satu persatu.
Driwatakan dari Fathimah binti Qais Radhiyallahu anha, bahwa Dajjal berkata; “Lalu aku bisa keluar. Aku akan berjalan di muka bumi, maka tidak akan aku tinggalkan satu kampung pun kecuali aku singgah kepadanya dalam waktu empat puluh malam, selain Mekah dan Thaibah (Madinah), keduanya diharamkan untukku, setiap kali aku hendak masuk ke salah satu darinya, maka Malaikat akan menghadangku dengan pedang yang terhunus yang menghalangiku untuk memasukinya, dan di setiap lorong darinya ada Malaikat yang menjaganya”. (HR. Muslim: XVIII/83)
Dan pada sebuah riwayat lainnya disebutkan bahwasanya Dajjal tidak akan memasuki empat masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Ath Thur, dan Masjidil Aqsha.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah bercerita tentang Dajjal, “Sesungguhnya Dajjal akan berdiam di muka bumi selama empat puluh hari dalam waktu tersebut dia akan mencapai setiap sumber air dan tidak akan mencapai empat masjid; yaitu Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Ath Thuur, dan Masjid Aqsha”. (HR. Ahmad: VII/343)
Pengikut Dajjal yang paling banyak adalah orang-orang Yahudi, Ajam, bangsa Turk, dan manusia dari berbagai bangsa dan golongan, sebagian besar mereka adalah orang-orang Arab dusun juga para wanita.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda;
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُوْدِ أَصْبَهَانَ، سَبْعُوْنَ أَلْفًا، عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
“Orang-orang Yahudi Ashbahan yang akan mengikuti Dajjal sebanyak tujuh puluh ribu, mereka mengenakan jubah tebal dan bergaris”. (HR. Muslim: XVIII/85-86)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, yang dimaksud dengan bangsa Turk adalah para pembantu Dajjal. (An Nihaayah/Al Fitan wal Malaahim: I/117)
Pernyataan bahwa kebanyakan pengikut mereka dari kalangan Arab karena sesungguhnya kebodohan telah menyelimuti mereka.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda;
يَنْزِلُ الدَّجَّالُ فِيْ هَذِهِ السَّبْخَةِ بِمِرْقَنَاةَ، فَيَكُوْنُ أَكْثَرُ مَنْ يَخْرُجُ إِلَيْهِ النِّسَاءُ، حَتَّـى إِنَّ الرَّجُلَ يَرْجِعُ إِلَى حَمِيْمِهِ وَإِلَى أُمِّهِ وَابْنَتِهِ وَأُخْتِهِ وَعَمَّتِهِ فَيُوْثِقُهَا رِبَاطًا؛ مَخَافَةَ أَنْ تَخْرُجَ إِلَيْهِ.
“Dajjal akan turun pada tanah lembab di Mirqanah ini, maka orang yang paling banyak keluar bersamanya adalah para wanita, sehingga seseorang kembali kepada mertuanya, kepada ibunya, anak puterinya, saudara perempuannya dan bibinya, lalu dia menguatkan hati-hati mereka sebab khawatir mereka keluar bersamanya”. (HR. Ahmad: VII/190, no. 5353)
Adapun para wanita, maka keadaan mereka lebih parah daripada keadaan orang-orang Arab kampung karena tabi’at mereka yang cepat terpengaruh dan kebodohan yang menyelimuti mereka.(*)