Subang, tiradar.id – Dikisahkan tentang tiga orang dari kaum Bani Isra’il, yang satu menderita kebutaan, satunya lagi botak kepalanya, dan yang terakhir penyakit kusta.
Kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’ala hendak menguji mereka semua dengan mengutus kepada mereka semua seorang malaikat, pertama kali malaikat tersebut mendatangi orang yang menderita kusta
Malaikat lalu berkata kepadanya; “Apa yang paling engkau inginkan?. Ia menjawab; “Warna kulit yang bagus, dan kulit yang mulus, serta di hilangkan penyakitku ini yang membuat manusia merasa jijik denganku”.
Kemudian malaikat tersebut mengusapnya, sehingga penyakit yang di deritanya hilang lalu kulitnya berganti menjadi mulus.
Malaikat lalu berkata; “Harta apa yang paling kau cintai?. Ia menjawab; “Unta”. Kemudian ia dikasih seekor unta yang sedang bunting, seraya di do’akan oleh malaikat tersebut; “Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala memberkahi kamu dengan unta ini”.
Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang kepalanya botak, lalu berkata kepadanya; “Apa yang paling engkau inginkan?. Ia menjawab; “Rambut yang indah, sehingga aibku ini hilang, jadi manusia tidak lagi menjauh dariku”.
Malaikat tersebut mengusap kepalanya, lalu tumbuhlah rambut yang indah, dan ia diberi rambut yang bagus.
Lalu malaikat bertanya; “Harta apa yang paling kamu cintai?. Orang tadi menjawab; “Sapi”. Ia lalu diberi seekor sapi betina yang sedang bunting, seraya di do’akan oleh malaikat; “Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla memberkahimu dengan sapi ini”.
Lalu, malaikat itu mendatangi orang yang buta, lalu bertanya kepadanya; “Apa yang paling kamu inginkan?. Ia menjawab; “Aku ingin supaya Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku bisa melihat orang lain”.
Maka di usaplah matanya oleh malaikat, akhirnya Allah mengembalikan penglihatannya.
Malaikat kemudian bertanya; “Harta apa yang paling kamu sukai?. Ia berkata; “Kambing”. Ia pun dikasih kambing yang sedang bunting.
Kemudian masing-masing dari hewan pemberian tadi saling beranak pinak, sehingga orang yang pertama mempunyai satu lembah unta, yang satunya lagi mempunyai satu lembah sapi, dan yang terakhirpun mempunyai satu lembah kambing.
Pada suatu ketika, malaikat tersebut mendatangi orang yang terkena kusta, dengan kondisi dan rupa yang sama ketika dirinya dulu sakit, lalu memelas kepadanya; “Saya orang yang miskin, sungguh diriku telah kehabisan bekal untuk meneruskan perjalanan, tidak ada yang mampu menolongku pada hari ini, melainkan Allah dan dirimu. Saya minta kepadamu yang telah di beri warna kulit yang indah,dan bagus, serta harta yang berlimpah, berilah saya seekor unta agar saya bisa meneruskan perjalananku”.
Namun orang ini justru menghardiknya, seraya berkata kepadanya: “Kebutuhanku masih banyak”.
Malaikat tadi berkata: “Sepertinya dulu aku mengenalmu, bukankah kamu dulu adalah orang yang kena kusta, yang di jauhi manusia, orang yang fakir kemudian Allah memberimu harta?. Ia berkata dengan sombongnya; “Saya mendapatkan harta ini dari warisan ayahku dari kakeknya!. Setelah itu, malaikat tadi berkata padanya; “Jikalau kamu berdusta, semoga Allah mengembalikan keadaan kamu seperti semula”.
Malaikat itu kemudian mendatangi orang yang botak dengan kondisi serta keadaan yang sama seperti dirinya dulu, lalu berkata seperti apa yang di katakan pada orang yang terkena kusta tadi, dan orang yang dulunya botak inipun menolak sama seperti yang di lakukan oleh orang pertama.
Maka malaikat tersebut pun berkata kepadanya; “Kalau seandainya kamu berdusta, semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengembalikan keadaanmu seperti semula”.
Kemudian malaikat mendatangi orang yang dulu buta, dengan keadaan dan kondisi yang sama seperti dirinya dulu, lalu berkata kepadanya: “Saya orang miskin dan ibnu sabil yang telah kehabisan bekal untuk melanjutkan perjalanan, tidak ada yang bisa menolongku melainkan Allah dan anda, saya minta kepadamu yang telah dikembalikan penglihatanya, seekor kambing agar saya bisa meneruskan perjalananku”.
Orang itu berkata bijak kepadanya; “Sungguh dulu diriku adalah orang yang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatanku, ambillah seberapa engkau mau, dan tinggalkan sesukamu. Sungguh demi Allah, saya tidak merasa keberatan dengan sesuatu yang diambil karena Allah”.
Malaikat tersebut menjawab; “Ambil hartamu, kalian sedang di uji, sungguh Allah Shubhanahu wa Ta’ala telah ridho kepadamu, dan murka kepada dua sahabatmu”.(*)