Ragam  

Peringati 200 Tahun Perang Jawa, Warisan Perjuangan Pangeran Diponegoro Terus Dihidupkan

Foto arsip - Pengunjung mengamati karya saat pameran sastra rupa "Gambar Babad Diponegoro" di Jogja Gallery, DI Yogyakarta, Selasa (5/2/2019). (ANTARA FOTO/Hendrya Nurdiyansyah)

Jakarta, tiradar.id – Nama Pangeran Diponegoro terus dikenang dan dijadikan simbol perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme. Sejarah mencatat bahwa Perang Jawa yang dipimpinnya dua abad lalu bukan hanya sebuah pemberontakan bersenjata, tetapi juga pernyataan bermartabat dari bangsa yang menuntut penghormatan dan keadilan.

Presiden pertama RI, Soekarno, pada peringatan 100 tahun wafatnya Diponegoro tahun 1955 pernah menyatakan, “Kalau nama orang-orang yang memenjarakan kepadanya telah hilang sama sekali daripada ingatan manusia, nama Diponegoro akan hidup terus.” Ungkapan tersebut kini terbukti. Nama Pangeran Diponegoro terus diabadikan dalam berbagai bentuk mulai dari jalan, gedung, hingga institusi pendidikan.

Pangeran Diponegoro, yang lahir dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar pada 11 November 1785 di Keraton Yogyakarta, merupakan putra Sri Sultan Hamengkubuwono III dan selir bernama Mangkarawati. Ia memimpin Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830) yang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial Belanda.

Dengan strategi gerilya yang cerdik dan dukungan para tokoh seperti Kyai Mojo, Sentot Prawirodirdjo, dan Kerto Pengalasan, Diponegoro berhasil membuat Belanda kewalahan. Namun, strategi “Benteng Stelsel” yang diterapkan Belanda pada 1827 secara perlahan melemahkan kekuatan pasukan Diponegoro. Pada 28 Maret 1830, Belanda mengkhianati perundingan dan menangkap Diponegoro di Magelang. Ia kemudian diasingkan ke Manado, lalu ke Makassar hingga wafat pada 1855.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Prof. E. Aminudin Azis menyatakan, esensi Perang Jawa adalah perlawanan atas ketidakadilan kolonial yang sudah menindas rakyat. Dari sudut pandang Pangeran Diponegoro, perang ini adalah upaya menuntut penghormatan martabat. “Kobaran api semangat dan cita-cita Sang Pangeran untuk meraih keluhuran martabat bangsa adalah ruh yang senantiasa hidup dalam raga bangsa ini,” ujar Amin dalam acara peringatan 200 tahun Perang Jawa, Minggu (20/7).

Perang Jawa juga memberi dampak besar bagi Belanda. Lebih dari 15.000 tentara—baik Eropa maupun pribumi pendukung Belanda—tewas, dan kerugian finansial mencapai 20 juta Gulden. Krisis ini membuat Belanda menerapkan sistem tanam paksa yang kemudian semakin menyengsarakan rakyat Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya generasi muda meneladani nilai-nilai yang diwariskan oleh Pangeran Diponegoro: kejujuran, ketangguhan, prinsip yang teguh, dan cinta Tanah Air. “Perang Jawa mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak lahir dari kenyamanan, tapi dari semangat pengorbanan dan perlawanan,” tegas Fadli.

Sebagai bagian dari peringatan 200 tahun Perang Jawa, Perpusnas menggelar pameran mulai 20 Juli hingga 20 Agustus 2025. Pameran ini menampilkan koleksi Museum Nasional, Keraton Yogyakarta, serta replika keris dan pelana kuda Diponegoro. Babak-babak penting kehidupan Pangeran Diponegoro juga diangkat, mulai dari masa kecil (Mustahar), perjuangan dalam Perang Sabil, strategi Muslihat, hingga warisannya sebagai Lentera Bangsa.

Pameran ini juga tersedia dalam format digital melalui platform Google Arts & Culture. Selain itu, Perpusnas meluncurkan buku Babad Diponegoro, Sketsa Perang Jawa, dan 25 judul komik bertema Babad Diponegoro untuk memperkenalkan nilai-nilai perjuangan kepada anak-anak.

Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan semangat nasionalisme, kejujuran, dan sikap rela berkorban yang diperjuangkan oleh Pangeran Diponegoro dapat terus ditanamkan dalam jiwa bangsa Indonesia. Warisan sejarah ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dan kehormatan bangsa dibangun di atas fondasi perjuangan yang panjang dan bermartabat.