Jakarta, tiradar.id – Transisi energi global ternyata belum sepenuhnya menggeser dominasi bahan bakar fosil. Data yang dihimpun Visual Capitalist mencatat, sepanjang 2024 batu bara masih menjadi sumber utama pembangkit listrik dunia dengan kontribusi lebih dari sepertiga kebutuhan energi global.
Gas alam berada di posisi kedua dengan porsi 22,4 persen. Sementara itu, energi terbarukan terus memperluas perannya: tenaga air menyumbang 14,4 persen, angin 7,8 persen, dan surya 6,5 persen. Total, ketiganya kini sudah menyuplai lebih dari seperempat listrik dunia.
Di sisi lain, energi nuklir masih bertahan dengan kontribusi sekitar 9 persen, terutama berkat dukungan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Tiongkok. Adapun sumber energi lain seperti minyak, biomassa, dan panas bumi (geothermal) secara keseluruhan hanya menyumbang 4,5 persen.
Peta Energi Berbeda di Negara Maju dan Berkembang
Eropa dan Amerika Utara menunjukkan pola yang berbeda. Negara-negara maju di kawasan ini semakin agresif menekan emisi dengan memperbesar porsi energi angin, surya, serta nuklir.
Sebaliknya, negara berkembang masih dihadapkan pada dilema. Kebutuhan energi murah untuk mendukung industrialisasi membuat banyak negara tetap mengandalkan batu bara, meskipun agenda transisi hijau terus digalakkan.
Dampak Geopolitik dan Harga Energi
Krisis energi pascaperang Rusia-Ukraina juga menjadi faktor penting dalam peta energi dunia. Lonjakan harga gas alam membuat sejumlah negara kembali mengaktifkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara yang sebelumnya telah dipensiunkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi energi global bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga terkait erat dengan stabilitas geopolitik dan biaya yang harus ditanggung konsumen.
Meski demikian, tren peningkatan peran energi terbarukan menandai arah perubahan yang kian jelas. Batu bara dan gas memang masih memimpin, tetapi pangsa energi hijau diprediksi akan terus menanjak dalam beberapa tahun mendatang.
