Dinkes KBB Ungkap Penyebab Keracunan Massal MBG Kualitas Air Buruk  

Bandung Barat, tiradar.id- Kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa lebih dari dua ribu siswa di Kabupaten Bandung Barat akhirnya mulai menemukan titik terang.

Hasil investigasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB mengungkap faktor utama penyebab insiden tersebut adalah kualitas air yang buruk.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, Lia N. Sukandar, mengatakan BGN menemukan bahwa kualitas air yang digunakan untuk memasak di sejumlah Sarana Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak memenuhi standar.

“BGN menyampaikan hasil investigasinya, kualitas air di KBB ini belum sepenuhnya bagus. Kalau dari kita (Dinkes), itu dominan karena ada kandungan nitrit di beberapa menu,” ujar Lia saat dikonfirmasi, Jum’at (14/11/2025).

Menurut Lia, pengelola SPPG di Bandung Barat harus mulai berinvestasi untuk meningkatkan standar kebersihan dan keamanan pangan, terutama terkait pengolahan air. Ia menyebutkan perlunya pemasangan filter hingga tangki air untuk memastikan air layak digunakan.

“Harus mau keluar modal dulu. Misalnya, seperti kata Kepala BGN, beli tangki air, beli filter. Atau melibatkan ahli untuk mencari solusi supaya sumber air yang digunakan sesuai standar,” tambahnya.

Dinkes KBB juga tengah mempercepat penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh SPPG. Proses ini mengharuskan adanya hasil uji laboratorium yang menyatakan bebas dari E. coli, boraks, formalin, rhodamine B, dan methanil yellow.

Selain itu, setiap SPPG wajib menjalani Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) oleh petugas puskesmas, serta memastikan penjamah makanan memiliki sertifikat keamanan pangan siap saji.

“Setidaknya kalau seluruh proses tadi sudah dilakukan, mereka akan lebih aware dan bisa mencegah terjadinya keracunan pangan,” kata Lia.

Kasus keracunan MBG di KBB sempat menjadi sorotan nasional setelah ribuan siswa mengalami gejala mual, pusing, hingga diare usai menyantap makanan dari program tersebut. Pemerintah daerah terus melakukan penanganan dan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Penulis: Yuki Ishak