Purwakarta, tiradar.id – Peringatan Hari Gizi Nasional ke 64 tahun 2024, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengusung tema MP-ASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting dengan slogan MP-ASI Berkualitas untuk Generasi Emas.
Penjabat Bupati Purwakarta, Benni Irwan mengatakan peringatan Hari Gizi Nasional ke 64 ini, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya menerapkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang kaya protein hewani yang optimal untuk mencegah stunting dan menciptakan generasi emas Indonesia, Rabu 21 Februari 2023.
Dalam agenda tersebut, Penjabat Bupati Purwakarta juga membacakan sambutan Dirjen Kesehatan Masyarakat pada Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi yang menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting dapat dimulai dari pemantauan pertumbuhan balita.
“Jika di posyandu ditemukan balita dengan berat badan yang tidak naik harus segera diperiksa ke dokter atau Puskesmas. Balita yang tidak naik atau berat badan kurang dapat dicegah menjadi stunting dengan mengkonsumsi protein hewani yang cukup. Pasalnya ada bukti kuat hubungan antar stunting dan indikator konsumsi pangan yang berasal dari hewan seperti daging, ikan, telur dan produk turunannya,” kata Benni.
Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Purwakarta, Benni juga mengucapkan selamat Hari Gizi Nasional yang ke 64 kepada para pihak yang berkaitan dengan permasalahan gizi di Kabupaten Purwakarta.
“Sebagaimana kita pahami bersama stunting merupakan masalah gizi yang dihadapi oleh masyarakat dibeberapa kelompok usia rawan seperti remaja putri, calon pengantin ibu hamil, bayi dan balita. Sementara prevalensi stunting di Kabupaten Purwakarta berdasarkan bulan penimbangan balita tahun 2022 tercatat sebesar 33 persen selanjutnya mengalami penurunan pada tahun 2023 menjadi 2 persen,” ujarnya.
Angka tersebut diperoleh dari penimbangan rutin yang dilaksanakan oleh kader di Posyandu. Yang kemudian menjadi patokan dalam melakukan intervensi-intervensi sedangkan hasil SSGI tahun 2022 yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan dengan menggunakan metode random sampling, angka Kabupaten Purwakarta menunjukkan dari 20,6 persen menjadi 21,8 persen.
“Hal ini Tentunya menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat belum menyeluruh dalam penanganan stunting, hasil survei ini sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya masih ada strategi yang perlu kita garap terkait intervensi spesifik dari dinas kesehatan dan tingkat intervensi sensitif dari OPD-OPD lain,” kata Benni.(*)