BNPB Sebut Banjir Jabodetabek 2025 Sebabkan Kerugian Mencapai Rp1,7 Triliun

Warga mengamati mobil dan sepeda motor yang terdampak banjir luapan air Kali Bekasi di Sekolah Permata Sakti di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Jatirasa, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/3/2025). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/tom.

Jakarta, tiradar.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa bencana banjir bandang yang melanda kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah menyebabkan kerugian sosial-ekonomi yang sangat besar. Dalam waktu hanya beberapa hari, total nilai kerusakan dan kerugian akibat banjir ini mencapai Rp1,69 triliun.

Kerugian besar tersebut diungkapkan dalam rapat koordinasi tingkat menteri yang membahas penanganan serta pengurangan risiko bencana banjir jangka pendek hingga menengah. Rapat tersebut digelar di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di Jakarta.

Dampak Ekonomi dan Sosial yang Signifikan

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa dampak banjir Jabodetabek pada 2-3 Maret 2025 mencerminkan efek serius terhadap infrastruktur, perekonomian, dan kehidupan masyarakat. Kerusakan terbesar tercatat di Kabupaten Bekasi dengan nilai Rp680 miliar, terdiri dari Rp659,1 miliar akibat kerusakan fisik dan Rp20,9 miliar dari kerugian lainnya. Sementara itu, Kota Bekasi mengalami kerugian terbesar tanpa laporan kerusakan fisik, dengan total Rp878,6 miliar.

Di wilayah lain, Provinsi DKI Jakarta mengalami total kerugian Rp1,92 miliar, Kabupaten Bogor sebesar Rp96,7 miliar, dan Kota Depok senilai Rp28,8 miliar. Kabupaten Tangerang mencatat kerugian Rp5,06 miliar, sementara Kota Tangerang dan Tangerang Selatan tidak melaporkan kerusakan maupun kerugian yang signifikan.

Kerusakan Infrastruktur dan Perumahan

Sektor perumahan menjadi yang paling terdampak dengan total kerusakan dan kerugian mencapai Rp1,34 triliun. Sementara itu, infrastruktur yang rusak mencakup jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya dengan nilai kerugian Rp45,88 miliar. Gangguan akses transportasi dan fasilitas umum menyebabkan tambahan kerugian senilai Rp110,11 miliar, sehingga total kerusakan dan kerugian sektor ini mencapai Rp155,99 miliar.

Dampak terhadap Perekonomian dan Layanan Sosial

Bencana ini juga berdampak signifikan terhadap sektor ekonomi. Kerusakan aset ekonomi mencapai Rp130,27 miliar, ditambah dengan kerugian akibat penurunan aktivitas ekonomi sebesar Rp14,18 miliar. Layanan sosial juga mengalami gangguan serius, dengan nilai kerugian sebesar Rp36,78 miliar. Hal ini mencakup dampak pada layanan kesehatan, pendidikan, dan peningkatan kebutuhan bantuan sosial.

Selain itu, terdapat kerugian lintas sektor senilai Rp352,45 juta, yang meliputi aspek tata kelola pemerintahan dan lingkungan. Dengan total nilai kerusakan hampir Rp1,7 triliun, banjir di Jabodetabek pada tahun 2025 menjadi salah satu bencana dengan dampak ekonomi dan sosial yang sangat besar.

Upaya Penanggulangan oleh BNPB

Sebagai bagian dari upaya mitigasi, BNPB telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengendalikan intensitas hujan di wilayah terdampak. Selain itu, BNPB juga menyalurkan bantuan berupa dana operasional serta logistik dan peralatan senilai Rp8,22 miliar kepada pihak terkait dalam penanganan bencana.

Banjir yang melanda Jabodetabek ini menunjukkan pentingnya perencanaan mitigasi bencana yang lebih baik di masa mendatang. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat infrastruktur penanggulangan banjir, serta memperbaiki tata kelola lingkungan guna mengurangi risiko bencana di masa depan.