Ramadan di Gaza: Bertahan di Tengah Reruntuhan dan Kelaparan

Ilustrasi - Jalur Gaza pasca 16 bulan serbuan tentara Israel. ANTARA/Anadolu/py/pri.

Jakarta, tiradar.id – Warga Palestina di Jalur Gaza menyambut bulan suci Ramadan dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Perang berkepanjangan selama 16 bulan telah mengubah wilayah ini menjadi zona bencana, di mana kelaparan dan kehancuran menjadi pemandangan sehari-hari.

Sebelum perang, suasana Ramadan di Gaza penuh dengan kehidupan. Panggilan azan menggema, pasar-pasar dipenuhi lampu-lampu hias, dan anak-anak melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Namun kini, tradisi tersebut tinggal kenangan. Tangisan korban perang menggantikan gema azan, sementara pasar yang dulu ramai kini hanya tersisa puing-puing.

Ramadan di Tengah Luka Perang

Setiap sudut Gaza menyimpan luka mendalam. Rumah, masjid, dan sekolah hancur akibat serangan. Namun, meski mengalami penderitaan luar biasa, warga tetap berusaha menjaga tradisi Ramadan. Lentera-lentera digantung di antara reruntuhan, dan mural warna-warni dilukis di dinding-dinding yang telah hancur.

“Kami menciptakan kehidupan dari warna-warna,” kata seorang pemuda Gaza kepada Anadolu. “Kami adalah orang-orang yang mencintai kehidupan. Kami menyambut Ramadan dengan harapan bahwa Ramadan akan membawa kedamaian dan keamanan.”

Di Khan Younis, seorang pria Palestina tetap berjualan Qatayef, kue khas Ramadan. “Suasana tahun ini adalah yang tersulit yang pernah kami alami. Tidak ada kegembiraan, tidak ada perayaan,” ujarnya.

Kursi Kosong Saat Berbuka

Tahun ini, suasana berbuka puasa di Gaza dipenuhi dengan kesedihan. Banyak kursi kosong di meja makan karena anggota keluarga telah tiada akibat perang. Hingga 27 Februari, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 48.365 korban tewas sejak 7 Oktober 2023.

Bantuan makanan yang masuk ke Gaza sangat terbatas dan harganya melambung tinggi, membuat banyak keluarga yang kehilangan mata pencaharian kesulitan bertahan hidup. “Lebih dari dua juta orang menghadapi kekurangan pangan. Harga-harga telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Ismail Al-Thawabta, pejabat Gaza.

Air bersih menjadi barang langka, dan banyak warga terpaksa memasak dengan kayu bakar karena tidak ada gas atau listrik. PBB juga melaporkan bahwa pembatasan bantuan kemanusiaan telah menyebabkan enam bayi meninggal akibat udara dingin.

Kota yang Hancur, Harapan yang Tak Padam

Jalur Gaza kini menjadi simbol kehancuran. Dari 1.244 masjid, sebanyak 1.109 telah hancur total atau sebagian. Lebih dari 1,5 juta warga mengungsi, hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Meski demikian, warga Gaza tetap teguh menjalankan ibadah Ramadan. Salat Tarawih tetap dilakukan di antara reruntuhan, dan doa terus dikumandangkan dari sisa-sisa masjid yang masih berdiri.

Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Januari sempat memberi sedikit jeda dari serangan, tetapi dampak perang tetap terasa. Gaza mungkin hancur, namun semangat dan harapan warganya tetap menyala, menantikan hari di mana kedamaian benar-benar datang.