Ragam  

Kriteria Memilih Pemimpin yang Adil, Harus Begini Idealnya

Memilih pemimpin yang adil. (Foto: Net)

Subang, tiradar.id – Syarat-syarat seorang pemimpin yang harus dimiliki yaitu adil dengan ketentuan aturan yang benar, memiliki ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum.

Pemimpin juga harus sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan. Pemimpin harus normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi.

Pemimpin harus bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara. Memiliki keberanian yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.

Nilai lebih dalam hal kebijakan, kesabaran, keberanian, sehat jasmani dan rohani serta kecerdikan merupakan kriteria yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki kriteria itu, seorang pemimpin akan kesulitan dalam mengatur dan mengurus negara dan rakyatnya.

Muhammad Al Amin Asy Syinqithi menjelaskan; “Pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjadi qadhi (hakim) bagi rakyatnya (kaum muslimin). Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakatnya”.

Ibnul Muqaffa menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin, tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala yang besar. Seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun kepemimpinan.

Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak, (yaitu) tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum.

Para pemimipin hendaklah selalu mengawasi para bawahannya dan menanyakan keadaan mereka. Sehingga keadaan bawahan tidak ada yang tersamar baginya, yang baik maupun yang buruk.

Setelah itu, janganlah ia membiarkan pegawai yang baik tanpa memberikan balasan, dan janganlah membiarkan pegawai yang nakal dan yang lemah tanpa memberikan hukuman ataupun tindakan atas kenakalan dan kelemahannya itu.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, “Amal seorang imam yang adil terhadap rakyatnya sehari, lebih utama daripada ibadah seorang ahli ibadah di tengah keluarganya selama seratus atau lima puluh tahun”.

Seandainya Allah tidak menegakkan pemimpin di muka bumi untuk menolak kesemena-menaan yang kuat terhadap yang lemah dan membela orang yang dizhalimi atas yang menzhalimi, niscaya hancurlah orang-orang yang lemah.

Akibatnya, manusia akan saling memangsa, segala urusan menjadi tidak akan teratur, dan hiduppun tidak akan tenang, dan rusaklah kehidupan di atas muka bumi ini.(*)