Jakarta, tiradar.id – Pesawat pengebom siluman B-2 Spirit kembali menjadi sorotan dunia setelah Amerika Serikat menggunakannya dalam serangan militer terhadap fasilitas nuklir milik Iran pada Sabtu, 21 Juni 2025. Dalam operasi tersebut, B-2 Spirit membawa bom penghancur bunker jenis GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator (MOP) yang dikenal memiliki daya hancur sangat besar.
Langkah ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. B-2 Spirit dikerahkan secara khusus untuk menghantam fasilitas bawah tanah Iran yang diduga menjadi lokasi pengembangan senjata nuklir.
Mengenal B-2 Spirit
B-2 Spirit adalah pesawat pengebom strategis buatan perusahaan pertahanan terkemuka asal AS, Northrop Grumman. Pesawat ini dirancang dengan teknologi canggih, termasuk kemampuan siluman (stealth), sehingga sangat sulit terdeteksi oleh radar maupun sistem pertahanan udara lawan. Karena kemampuannya itu, B-2 Spirit dijuluki sebagai pesawat penembus pertahanan udara paling tangguh di dunia.
Pesawat ini pertama kali digunakan dalam Perang Kosovo pada tahun 1999 dan sejak itu terus dilibatkan dalam berbagai operasi militer penting Amerika Serikat.
Dari sisi spesifikasi, B-2 Spirit memiliki panjang 21 meter dan bentang sayap sekitar 52 meter. Pesawat ini mampu membawa berbagai jenis senjata, termasuk senjata konvensional dan nuklir. Dalam misi terbaru ke Iran, B-2 membawa GBU-57A/B MOP seberat 13,6 ton—bom yang dirancang khusus untuk menghancurkan target di kedalaman tanah seperti bunker bawah tanah.
Meski membawa persenjataan berat, B-2 tetap memiliki kemampuan jarak tempuh hingga 11.000 kilometer dan dapat melakukan pengisian bahan bakar di udara, membuatnya sangat fleksibel untuk operasi lintas benua.
Teknologi Siluman
Salah satu keunggulan utama B-2 Spirit adalah kemampuan silumannya. Pesawat ini dirancang dengan signatur radar yang sangat rendah sehingga hampir tidak terdeteksi oleh radar musuh. Keunggulan inilah yang menjadikannya andalan Amerika Serikat dalam menjalankan misi-misi rahasia dan strategis.
Serangan yang dilakukan pada 21 Juni ini memicu perhatian luas, tidak hanya dari kalangan militer, tetapi juga dari masyarakat dunia yang khawatir akan kemungkinan eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah.
Amerika Serikat sendiri belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai dampak dari serangan tersebut, namun penggunaan B-2 Spirit menegaskan bahwa negeri Paman Sam tidak segan mengerahkan teknologi militernya yang paling canggih dalam menghadapi ancaman strategis.


