Jakarta, tiradar.id – Batuk yang tak kunjung reda atau terus berulang setiap bulan bisa menjadi gejala asma, penyakit kronis yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran pernapasan. Hal ini disampaikan oleh dr. Wahyuni Indrawati, Sp.A(K), konsultan respirator anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo dalam sebuah webinar yang diselenggarakan daring pada Rabu (tanggal tidak disebutkan).
“Batuk-batuk merupakan gejala utama asma, selain suara nafas berbunyi seperti peluit atau mengi,” jelas dr. Wahyuni. Ia menambahkan bahwa gejala tersebut menjadi tanda penting yang patut dicurigai sebagai indikasi asma, terutama bila terjadi secara berulang.
Anak-anak di bawah usia lima tahun umumnya lebih sering mengalami infeksi saluran pernapasan. Namun, menurut dr. Wahyuni, orang tua sebaiknya tidak mengabaikan bila anak sering mengalami batuk, terutama jika terjadi hampir setiap bulan. “Kalau tiap bulan batuk, nah itu jangan-jangan, harus dicurigai merupakan gejala atau ciri khas asma,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa anak yang tampak sehat dan aktif di siang hari, namun mengalami batuk parah pada malam hingga dini hari, patut diduga mengidap asma. Selain batuk dan mengi, gejala lain asma adalah sesak napas dan rasa tertekan atau nyeri pada dada akibat penyempitan saluran napas.
Kementerian Kesehatan dalam situs resminya menyebutkan bahwa diagnosis asma dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, tes fungsi paru-paru, serta tes alergi jika diperlukan. Penanganan asma bertujuan untuk mengendalikan gejala, mencegah serangan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pengobatan bisa mencakup penggunaan inhaler jangka panjang maupun inhaler pereda cepat, serta obat tambahan untuk menangani alergi yang menjadi pemicu.
Manajemen lingkungan juga menjadi bagian penting dari pengendalian asma. Hindari paparan alergen seperti debu, tungau, bulu hewan, serbuk sari, asap rokok, serta polusi udara dan bahan kimia iritan lainnya. Gaya hidup sehat juga dianjurkan untuk membantu mengontrol gejala.
Asma sendiri, menurut Kemenkes, disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Riwayat keluarga berperan penting dalam menentukan risiko asma. “Anak yang orang tuanya punya riwayat alergi, peluangnya mengalami asma bisa mencapai 60 hingga 80 persen jika kedua orang tua memiliki alergi,” kata dr. Wahyuni. Jika hanya salah satu orang tua yang memiliki riwayat alergi, risikonya sekitar 40 persen, sedangkan anak tanpa riwayat keluarga alergi memiliki risiko 20 persen.
Selain faktor genetik, pemicu lingkungan juga berkontribusi besar terhadap munculnya asma, termasuk infeksi saluran napas akibat virus atau bakteri, aktivitas fisik berat, perubahan cuaca ekstrem, stres, hingga penggunaan obat tertentu.
Orang tua diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala batuk berulang pada anak dan segera berkonsultasi ke tenaga medis bila curiga terhadap kemungkinan asma.


