Ragam  

Waspada di Usia Senja, Ini 10 Gerakan yang Sebaiknya Dihindari Lansia

Ilustrasi Lansia | Foto: Ensure Gold

Jakarta, tiradar.id — Seiring bertambahnya usia, risiko cedera akibat aktivitas fisik meningkat tajam. Sebuah studi di Amerika Serikat mencatat, lebih dari 51 persen orang lanjut usia (lansia) mengalami jatuh akibat naik tangga. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama cacat bahkan kematian di usia senja.

Para ahli kesehatan menyarankan agar masyarakat yang telah berusia di atas 65 tahun berhati-hati dalam beraktivitas dan menghindari 10 gerakan berisiko tinggi, yaitu:

  1. Naik tangga.
  2. Menoleh atau membalikkan badan terlalu cepat.
  3. Membungkuk menyentuh telapak kaki.
  4. Mengenakan celana sambil berdiri.
  5. Melakukan sit-up.
  6. Memutar pinggang ke kiri dan kanan.
  7. Berjalan mundur.
  8. Membungkuk untuk mengangkat barang berat.
  9. Berdiri mendadak dari tempat tidur.
  10. Mengejan terlalu keras.

Langkah sederhana ini diyakini dapat mencegah ribuan kasus cedera hingga kematian pada lansia setiap tahunnya.

Selain itu, para perawat dan keluarga disarankan memahami empat situasi umum yang sering dialami lansia, beserta cara menanganinya:

  1. Tersedak makanan (keselek)
    Angkat tangan ke atas kepala untuk membantu melonggarkan saluran napas agar makanan yang tersangkut dapat turun.
  2. Salah bantal
    Jika leher terasa nyeri saat bangun tidur, angkat salah satu kaki dan pijat ibu jari kaki dengan gerakan memutar.
  3. Kram kaki
    Ketika kaki kiri kram, angkat tangan kanan tinggi-tinggi. Sebaliknya, jika kaki kanan kram, angkat tangan kiri.
  4. Kaki kesemutan
    Jika kaki kiri kesemutan, ayunkan telapak tangan kanan sekuat tenaga, begitu pula sebaliknya.

Edukasi ringan ini diharapkan membantu masyarakat menjaga keselamatan diri dan orang tua di rumah.

Selain pencegahan cedera, masyarakat juga diimbau mengenali tanda-tanda awal serangan stroke, penyakit yang sering menyerang lansia secara tiba-tiba.

Menurut para ahli saraf (neurolog), penderita stroke dapat pulih total jika mendapatkan penanganan medis dalam waktu tiga jam pertama sejak serangan terjadi. Oleh karena itu, mengenali gejalanya sangat penting.

Cara sederhana mengenali stroke dikenal dengan singkatan S-B-A:

  • S (Senyum): Minta penderita tersenyum. Bila salah satu sisi wajah tampak miring, bisa jadi gejala stroke.
  • B (Bicara): Minta penderita mengucapkan kalimat sederhana. Jika bicaranya pelo, perlu waspada.
  • A (Angkat tangan): Minta penderita mengangkat kedua tangan. Bila salah satu tak bisa terangkat, kemungkinan terjadi kelumpuhan.

Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah lidah yang tampak miring ke satu sisi saat dijulurkan.

Jika salah satu gejala di atas muncul, segera hubungi petugas medis atau ambulans untuk penanganan cepat.

Upaya edukasi dan kesadaran dini seperti ini penting untuk menurunkan angka kematian akibat stroke maupun cedera pada lansia. Masyarakat diimbau untuk berbagi informasi ini kepada keluarga dan lingkungan sekitar — karena satu pesan sederhana bisa menyelamatkan nyawa.

Salam sehat untuk semua lansia Indonesia.