Ragam  

Seks Setelah Menopause Antara Tantangan dan Mitos

Ilustrasi wanita di gurun pasir. (Foto: Net)

Jakarta, tiradar.id — Menurunnya gairah seks, vagina kering, serta perubahan suasana hati ekstrem merupakan gejala umum yang dialami perempuan ketika memasuki masa menopause. Fase ini menandai berakhirnya masa reproduksi dan kerap disertai perubahan fisik maupun psikologis yang signifikan.

Namun bagi sebagian perempuan, gejala tersebut justru muncul lebih awal, sekitar satu dekade sebelum menopause, pada periode yang disebut perimenopause. Suzan, perempuan berusia pertengahan 40-an asal Vancouver, Kanada, mengaku seks menjadi hal yang menyakitkan baginya.
“Saya masih punya hasrat seksual, tapi rasa sakitnya membuat saya kehilangan gairah,” katanya.

Menurut dr. Aziza Sesay, dokter umum sekaligus edukator kesehatan asal Inggris, vagina kering yang menyebabkan hubungan seks terasa menyakitkan merupakan akibat langsung dari menurunnya kadar hormon estrogen. “Karena pembicaraan tentang seks masih dianggap tabu di banyak budaya, banyak perempuan menganggap rasa sakit itu normal dan harus ditanggung demi menyenangkan pasangan,” ujarnya.

Hormon dan Gejala Tersembunyi

Estrogen dan testosteron berperan penting dalam menjaga libido perempuan. Ketika kadar kedua hormon ini menurun, gairah seksual ikut berkurang. Penurunan hormon juga menyebabkan jaringan vagina dan uretra menipis, kering, serta lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih (ISK).

Hal ini dialami Yas, perempuan berusia 49 tahun asal Inggris. “Setiap kali berhubungan seks, saya selalu mengalami infeksi yang menyakitkan. Akhirnya saya kehilangan minat sama sekali,” ujarnya.

dr. Sesay menjelaskan, “Estrogen bukan hanya berfungsi untuk menstruasi, tapi juga berperan menjaga kesehatan kulit, rambut, hingga pelumasan vagina. Penurunannya bisa berdampak luas pada tubuh perempuan.”

Seksualitas Tak Berakhir di Usia Menopause

Dalam banyak budaya, seksualitas perempuan kerap dikaitkan semata dengan fungsi reproduksi. Akibatnya muncul anggapan bahwa kehidupan seks perempuan berakhir setelah menopause.
Namun Nazanin Maali, psikolog dan terapis seks asal California, menegaskan bahwa persepsi itu keliru. “Saya punya banyak klien yang justru mulai menikmati seks terbaik dalam hidup mereka setelah menopause,” ujarnya.

Haldita, perempuan berusia 65 tahun asal London, mengaku kehidupan seksnya justru menjadi lebih menggairahkan setelah menopause dan perceraiannya. “Saya merasa bebas dan mulai menjalani kehidupan seks yang sehat serta penuh kenikmatan,” katanya.

Solusi Medis dan Non-Medis

Menurut dr. Maali, berbagai tantangan akibat menopause sebenarnya bisa diatasi melalui intervensi medis maupun non-medis. Salah satunya adalah terapi penggantian hormon (HRT) yang tersedia dalam bentuk pil, koyo, atau gel.
Namun tidak semua perempuan dapat mengonsumsi terapi hormon sistemik, terutama bagi penderita kanker. Dalam kasus seperti ini, hormon topikal yang dioles langsung pada area vagina dapat menjadi alternatif.

Selain terapi hormon, pelumas dan pelembap vagina yang dijual bebas juga bisa membantu, asalkan memperhatikan bahan yang aman. Fisioterapi dasar panggul pun direkomendasikan bagi mereka yang mengalami penurunan kekuatan otot di area tersebut.

Menjaga Gaya Hidup Sehat

dr. Sesay menekankan pentingnya perawatan diri dan gaya hidup sehat untuk membantu perempuan melewati fase ini.
“Berolahragalah secara teratur, konsumsi buah dan sayur, hindari alkohol, dan berhenti merokok. Jaga berat badan ideal dan kurangi stres,” ujarnya.

Ia menambahkan, perempuan sering kali menanggung terlalu banyak beban dalam hidupnya. “Mintalah bantuan bila perlu. Merawat diri bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk kasih terhadap tubuh sendiri.”

Menopause bukan akhir dari kehidupan seksual perempuan. Dengan pemahaman yang benar, dukungan medis yang tepat, dan penerimaan diri, banyak perempuan justru menemukan fase baru yang lebih sehat, bebas, dan penuh kenikmatan.

Sumber: BBC