Subang, tiradar.id – Thalaq atau biasa disebut talak dalam Islam adalah solusi terakhir dalam menghadapi permasalahan rumah tangga, kendaknya seseorang tidak gegabah dalam mengambil keputusan tersebut.
Thalaq dibagi menjadi dua, yaitu thalaq raj’i (thalaq yang dapat dirujuk kembali), ini dua kali saja dan thalaq ra’in (thalaq yang tidak ada rujuk).
Thalaq satu dan thalaq dua termasuk dalam kategori thalak raj’i, sehingga masih bisa rujuk dengan syarat tidak melewati masa iddah.
Para ulama sepakat tidak disyaratkannya adanya saksi dalam perceraian, namun para ulama masih berselisih tentang kewajiban saksi dalam rujuk. Dan yang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang tidak mewajibkan adanya saksi, namun bila dengan saksi, maka itu lebih baik.
Para ulama yang tidak mewajibkan saksi dalam rujuk, mereka berselisih dalam cara rujuk yang diakui syari’at. Ada yang menyatakan cukup dengan berhubungan suami istri, dan ada yang menyatakan harus dengan niat rujuk, serta ada yang menyatakan harus dengan diucapkan.
Pendapat yang kuat adalah, rujuk dikatakan (dianggap) sah dengan perbuatan atau perkataan yang menunjukan rujuknya suami isteri tersebut, baik dengan hubungan suami istri ataupun perkataan.
Isteri yang dithalaq satu dan dua belum dihukumi sebagai orang asing selama masih dalam masa iddah. Isteri menjadi orang asing apabila tidak diruju sampai selesai masa iddahnya.
Thalaq satu diperbolehkan rujuk selama masih dalam masa iddah, maksudnya, selama belum habis masa iddahnya.
Para ulama sepakat bahwa orang yang merdeka (bukan budak), apabila menthalaq dibawah thalaq tiga, maka ia memiliki hak rujuk selama masa iddah. Apabila telah melewati masa iddah, maka sang wanita mempunyai hak pilih dan harus dilakukan pernikahan baru.
Imam Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan; “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang merdeka, bila mencerai wanita yang merdeka setelah berhubungan suami isteri, baik thalaq satu atau dua, maka suami tersebut lebih berhak untuk ruju kepadanya, walaupun sang wanita tidak suka. Apabila tidak rujuk sampai selesai masa iddahnya, maka sang wanita menjadi orang asing (ajnabiyah), sehingga tidak halal baginya, kecuali dengan nikah baru”. (Nailul Authar: 6/265-266)
Ruju selama masa iddah dalam thalaq satu dan dua merupakan hak suami sebagaimana thalaq, tidak melihat kepada sang isteri ridha atau tidak.
Sang suami dilarang mengusir isteri yang dithalak satu dan dua dari rumahnya. Begitu juga sang isteri yang dicerai tersebut pergi tinggal di luar rumahnya.
Hukum thalaq satu menjadi gugur dengan sebab hubungan kembali suami isteri, walaupun tanpa menyatakan rujuk kepada sang isteri. Karena, hubungan tersebut sudah menunjukkan rujuk sang suami dari thalaqnya.(*)