Sumedang, tiradar.id – Indonesia merayakan Hari Inovasi Indonesia (HII), dan pada tahun 2023. Dalam rangka memperingati HII, sebuah desa di Kabupaten Sumedang telah berhasil menerapkan sistem pertanian organik.
Desa yang dimaksud adalah Desa Cikurubuk, yang terletak di Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Sistem pertanian organik yang diterapkan di desa ini diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup petani dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
Salah satu keunggulan dari pertanian organik adalah kemampuannya menghasilkan produk pertanian unggul, bebas dari residu pestisida, dan terbebas dari bahan kimia sintetis yang umumnya terdapat dalam pupuk buatan.
Muhamad Fadar Junawar, Kepala Desa Cikurubuk, menjelaskan bahwa sebagian petani di desa tersebut telah mengembangkan sistem pertanian organik selama lebih dari tiga tahun. “Pada prinsipnya kami sudah tidak memakai lagi produk sintetis kimia baik pupuk maupun pestisida, pestisidanya kami gunakan pestisida nabati,” ungkap Muhamad kepada awak media.
Dari total 172 hektar lahan pertanian di Desa Cikurubuk, sekitar 30 hektar di antaranya telah tersertifikasi sebagai lahan organik. Sertifikasi ini diberikan oleh lembaga sertifikasi organik, sehingga produk organik yang dihasilkan oleh desa ini memiliki keaslian yang terjamin.
Salah satu keuntungan utama dari penerapan pertanian organik adalah kemampuan petani untuk menekan biaya produksi, terutama biaya pupuk. Muhamad menjelaskan bahwa pupuk dapat diproduksi sendiri dengan memanfaatkan limbah, seperti kotoran sapi dan domba, serta urin dari hewan-hewan tersebut.
“Untuk mendapatkannya kita bisa kerjasama dengan komunitas petani peternak, jadi kita bisa bikin formula pupuk mandiri. Satu hari dikerjakan oleh tiga orang dan ini bisa digunakan untuk 30 hektar dengan bahan pupuk yang baik,” paparnya.
Selain itu, penerapan sistem pertanian organik di Desa Cikurubuk diklaim dapat meningkatkan harga gabah, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatan para petani. Desa ini melibatkan peran dari Badan Usaha Milik Desa (BUMdes) untuk memastikan kepastian penjualan hasil tani petani dengan harga yang lebih tinggi.
“Dengan peran BUMdes ini dapat memberikan kepastian bagi para petani dimana hasil tani mereka itu nantinya dibeli oleh BUMdes dengan harga lebih mahal dan mereka dapat akses untuk kebutuhan modal, pupuk, bibit, dari BUMdes nanti bayarnya panen, itu rencana besar saya,” ungkap Muhamad.
Produksi padi yang dihasilkan melalui sistem pertanian organik di Desa Cikurubuk mencapai kisaran 8,2 hingga 8,6 ton per hektar per musim tanam. Kualitas produk pertanian organik dari desa ini telah diakui dan Desa Cikurubuk bahkan dijadikan pusat pengembangan pertanian organik oleh Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.
Muhamad menjelaskan bahwa saat ini pertanian organik telah menjadi program prioritas di desa tersebut, mengingat mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Dengan menerapkan pertanian organik, diharapkan kualitas lahan pertanian dapat dipertahankan dan lingkungan tetap terjaga.
Desa Cikurubuk, yang memiliki penduduk sekitar 2.320 jiwa, kini memiliki 90 persen penduduknya yang bermata pencaharian sebagai petani. Saat ini, sudah tiga kelompok tani di desa tersebut yang menerapkan sistem pertanian organik, dan Muhamad berharap seluruh kelompok tani di Desa Cikurubuk dapat menerapkan pertanian organik dalam dua tahun ke depan.
Meskipun demikian, Muhamad juga menghadapi kendala dalam mengembangkan program ini, yakni perlunya dukungan dana dari pemerintah untuk memperkuat peran BUMdes di Desa Cikurubuk. “Satu kendala saat ini yaitu BUMdes butuh sokongan dana karena kan program prioritas ini membutuhkan dana besar untuk mengembangkan peran BUMdes,” ungkapnya.
Inisiatif pertanian organik di Desa Cikurubuk bukan hanya menjadi kebanggaan lokal tetapi juga memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk mengadopsi praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Dengan upaya ini, Desa Cikurubuk berkontribusi pada upaya menciptakan pertanian yang lebih berkelanjutan atau sustaiable di Indonesia.


