Jakarta, tiradar.id – Tahun 2025 diprediksi akan menjadi tahun yang penuh tantangan finansial bagi banyak orang. Menyikapi hal ini, Psikolog Klinis Nirmala Ika, M.Psi, yang merupakan lulusan Universitas Indonesia, menyarankan agar masyarakat membuat resolusi yang lebih realistis agar tidak menambah tekanan mental atau kekecewaan.
“Ketika membuat resolusi, penting bagi kita untuk melihat kondisi yang ada dan menetapkan target yang terukur serta relevan dengan kebutuhan,” ujar Ika saat dihubungi ANTARA. Menurutnya, resolusi yang terlalu ambisius tanpa mempertimbangkan kenyataan yang ada bisa memicu frustrasi dan tekanan mental yang tidak sehat.
Skala Prioritas untuk Resolusi
Salah satu hal yang penting adalah membuat skala prioritas dalam menentukan resolusi. Misalnya, jika tujuan tahun depan adalah pergi liburan, pertimbangkan seberapa penting perjalanan tersebut. “Apakah liburan ini hanya karena ikut-ikutan tren, atau memang diperlukan untuk mengisi ulang energi dan mempererat hubungan keluarga?” tambah Ika.
Jika liburan ke luar kota atau negara terlalu membebani anggaran, alternatif yang lebih terjangkau seperti destinasi lokal bisa dipertimbangkan. Misalnya, rencana awal untuk pergi ke Bali yang memerlukan anggaran besar bisa digantikan dengan liburan ke tempat lebih dekat dan ramah biaya, seperti Bogor atau Puncak. Dengan cara ini, tujuan liburan tetap tercapai tanpa membebani keuangan.
Resolusi yang Terukur dan Realistis
Ika juga mengingatkan agar resolusi yang dibuat harus realistis dan terukur, bukan sekadar keinginan tanpa analisis mendalam. “Misalnya, jika seseorang ingin pergi ke Jepang karena teman-temannya sudah pernah ke sana, tetapi apakah kondisi finansial dan pekerjaan mendukung hal itu? Jika tidak, keinginan tersebut justru bisa menjadi beban,” ujarnya.
Resolusi yang baik seharusnya layaknya rencana kerja dalam sebuah perusahaan, yaitu memiliki tujuan yang jelas, langkah-langkah terukur, dan evaluasi yang bisa dilakukan di sepanjang tahun.
Mereview Pencapaian untuk Menghindari Stres
Untuk mengurangi stres akibat resolusi yang belum tercapai, penting untuk melakukan review pencapaian tahun sebelumnya. Ika menambahkan, “Kadang kita merasa tidak mencapai apa-apa, padahal jika melihat kembali, mungkin kita sudah melakukan banyak hal yang signifikan.”
Sebagai contoh, jika tahun sebelumnya seseorang menetapkan resolusi untuk berolahraga secara rutin meskipun belum mencapai berat badan ideal, upaya seperti berjalan 10 ribu langkah setiap hari tetap merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Hal ini penting agar kita tidak terjebak dalam tekanan karena tidak mencapai segala hal yang diinginkan.
Tetap Optimis Menghadapi Prediksi Berat
Meskipun tahun 2025 diprediksi akan menghadirkan banyak tantangan, Ika mengingatkan bahwa prediksi ini hanya sebuah kemungkinan, bukan kepastian. “Setiap orang memiliki rezeki dan cara bertahan hidup masing-masing. Penting untuk tetap optimis dan melihat peluang di tengah tantangan,” ujarnya.
Dengan menerapkan skala prioritas, menetapkan target yang realistis, serta mereview pencapaian yang sudah dilakukan, kita bisa menghadapi tahun 2025 dengan lebih tenang dan percaya diri. Resolusi seharusnya tidak menjadi beban, melainkan panduan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Menghadirkan Harapan di Setiap Langkah
Resolusi bukanlah sekadar daftar keinginan, melainkan peta jalan menuju perubahan yang lebih baik. Dengan menetapkan target yang realistis, menentukan prioritas, dan merefleksikan pencapaian, kita bisa menjadikan tahun 2025 bukan sebagai beban, melainkan peluang untuk bertumbuh.
Jangan lupa, di tengah tantangan yang mungkin datang, harapan selalu ada. Ika menyarankan untuk tetap optimis dan menjadikan setiap langkah berarti dalam perjalanan menuju versi terbaik dari diri kita.


