Wisata  

Maraknya Wisata di Hutan Bandung Utara Picu Penurunan Daya Resap Air

Bandung, tiradar.id — Hutan Cikole di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kini menghadapi tekanan lingkungan yang semakin berat. Maraknya pembangunan objek wisata di kawasan ini dinilai mengancam fungsi hutan lindung sebagai daerah resapan air utama di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Eko Setiono, pemerhati lingkungan KBU, menuturkan bahwa pertumbuhan pesat sektor wisata tanpa pengelolaan yang matang telah menyebabkan perubahan signifikan terhadap daya serap tanah di kawasan hutan.

“Hutan kehilangan kemampuan menyerap air karena banyak area yang berubah fungsi menjadi tempat wisata dan fasilitas pendukung,” ujarnya, Jumat (24/10).

Menurut Eko, kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya risiko banjir di wilayah hilir akibat air hujan yang tak lagi terserap optimal. Ia menambahkan, saat ini luas daerah resapan air di KBU hanya tersisa sekitar 6,5 persen, jauh di bawah standar ideal yang mencapai 30 persen.

Hutan Cikole merupakan bagian dari hutan lindung seluas 20.650 hektar yang membentang dari Ujungberung hingga Padalarang. Di dalamnya terdapat RPH Cikole dengan luas sekitar 920 hektar, yang sejak 2012 mulai dikembangkan menjadi kawasan wisata alam melalui program pemberdayaan masyarakat.

Namun, menurut Eko, pengembangan wisata tersebut belum diimbangi dengan upaya perlindungan lingkungan yang memadai. Sebagian besar aktivitas wisata memanfaatkan lahan Perhutani, di mana sekitar 640 hektar telah dialokasikan untuk berbagai objek wisata komersial.

“Dalihnya memang pemberdayaan masyarakat, tapi dampak jangka panjang terhadap lingkungan tidak diperhatikan. Pengusaha hanya fokus pada keuntungan finansial,” tegasnya.

Para pemerhati lingkungan mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk menerapkan regulasi yang lebih tegas dalam pengelolaan kawasan hutan lindung. Mereka menilai perlunya pembatasan area wisata, pemeliharaan zona resapan air, serta edukasi bagi pengunjung agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Hutan Cikole hingga kini masih menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang mencari suasana alam di Bandung Utara. Namun tanpa pengawasan yang ketat, ancaman terhadap fungsi ekologis kawasan ini dikhawatirkan akan semakin besar dan berdampak pada keberlanjutan lingkungan di masa mendatang.

Penulis: Yuki Ishak