Ragam  

Glukosa di Otak Memainkan Peran Penting dalam Pengobatan Meningitis Jamur

Jakarta, tiradar.id – Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peneliti di China mengungkapkan bahwa glukosa di otak dapat memicu toleransi antijamur pada jenis jamur tertentu, yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada pengobatan meningitis jamur.

Meningitis jamur, khususnya yang disebabkan oleh Cryptococcus neoformans, merupakan penyebab utama sekitar 180.000 kematian per tahun.

Cryptococcus neoformans merupakan jamur yang menginfeksi otak manusia, dan saat ini, satu-satunya obat yang tersedia untuk mengobatinya adalah amfoterisin B. Meskipun amfoterisin B memiliki aktivitas bakterisidal yang sangat baik terhadap jamur C. neoformans, kegagalan pengobatan dan infeksi berulang masih menjadi masalah yang serius.

Para peneliti dari Institut Mikrobiologi di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) mengatasi masalah ini dengan melakukan metode penapisan high-throughput screen (HTS). Mereka memvalidasi jaringan otak dari tikus dan cairan serebrospinal manusia untuk mengeksplorasi efek ratusan metabolit terhadap interaksi antara C. neoformans dan amfoterisin B.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa glukosa di otak dapat memicu toleransi antijamur melalui protein C. neoformans, Mig1, yang berfungsi sebagai pengatur represi glukosa. Pada tikus, Mig1 menghambat sintesis ergosterol, komponen membran sel jamur yang menjadi target amfoterisin B.

Mig1 juga meningkatkan produksi inositolfosforilceramida, komponen lain dari membran sel jamur, yang bersaing dengan amfoterisin B untuk mendapatkan ergosterol, sehingga mengurangi efektivitas obat tersebut.

Dengan mengeksplorasi lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa penggunaan inhibitor inositolfosforilceramida bersamaan dengan amfoterisin B dapat meningkatkan kemanjuran pengobatan terhadap meningitis kriptokokus pada tikus.

Temuan ini memberikan harapan baru dalam upaya pengembangan pengobatan yang lebih efektif untuk penyakit serius ini.

Studi ini, yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Microbiology, membuka pintu bagi penelitian lebih lanjut dan pengembangan strategi pengobatan inovatif untuk meningitis jamur, dengan fokus pada interaksi antara glukosa di otak, jamur C. neoformans, dan amfoterisin B.

Sumber: ANTARA