Ragam  

Meluruskan Mitos dan Fakta Tentang Donor Mata: Apa yang Perlu Kita Ketahui?

Jakarta, tiradar.id – Donor mata mungkin terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat, berbeda dengan donor darah atau ginjal yang lebih umum dikenal. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai proses dan konsep donor mata. Berbeda dari donor darah dan ginjal yang dapat dilakukan semasa hidup, donor mata hanya bisa dilakukan setelah pendonor meninggal dunia, dan yang didonorkan bukanlah bola mata secara utuh, melainkan bagian kornea.

Menurut dr. Arief A. Mustaram, SpM(K), Ketua Bank Mata RS Mata Cicendo Bandung, donor mata sebenarnya mengacu pada pengambilan kornea, yaitu lapisan bening di bagian depan bola mata. “Donor kornea sendiri kita ambil bukan satu bundelan bola mata, tapi hanya kornea atau selaput bening. Setelah itu, bekas pengambilan ditutup dengan eyecatch yang menyerupai kornea sehingga tidak terlihat ada bagian yang hilang,” jelas dr. Arief.

Siapa yang Bisa Menjadi Pendonor Kornea?

Pada dasarnya, siapa saja dapat menjadi pendonor kornea selama memenuhi syarat kesehatan. Calon pendonor harus bebas dari penyakit menular seperti HIV, hepatitis, atau sifilis, serta tidak memiliki kebiasaan menggunakan obat-obatan terlarang. Selain itu, mereka juga disarankan untuk tidak memiliki tato dalam kurun waktu 6–12 bulan sebelum menjadi pendonor.

Batas usia pendonor tidak menjadi kendala besar. Di Amerika Serikat, ada konsensus yang menyarankan usia di bawah 65 tahun. Namun, menurut beberapa studi, usia di atas 70 tahun tetap memungkinkan, asalkan kondisi kesehatan pendonor memadai.

Manfaat dan Proses Donor Kornea

Donor kornea terutama bermanfaat bagi pasien yang mengalami gangguan penglihatan akibat kerusakan kornea, seperti bekas infeksi atau kelainan bawaan. Kornea yang tidak lagi bening dapat menyebabkan penglihatan buram atau terganggu oleh kilauan cahaya. Dengan teknologi medis saat ini, transplantasi kornea tidak harus dilakukan pada seluruh lapisan kornea, melainkan hanya pada bagian yang rusak.

Prosedur transplantasi ini juga bisa dilakukan pada satu mata saja, tergantung pada kondisi klinis pasien. Namun, untuk kasus kelainan genetik atau bawaan, transplantasi biasanya dilakukan pada kedua mata secara bertahap.

Pentingnya Perlindungan Mata

Infeksi kornea sering terjadi akibat trauma yang dialami saat bekerja, terutama pada sektor berisiko tinggi seperti pertanian atau pabrik. “Petani yang bekerja di kebun atau hutan bisa terkena trauma vegetatif, misalnya terkena tanaman atau tanah. Hal ini cukup sering menjadi indikasi kasus infeksi yang biasanya terjadi pada satu mata saja,” ungkap dr. Arief.

Ia menekankan pentingnya alat pelindung diri (APD) untuk pekerja. Perusahaan juga diharapkan menyediakan portal keselamatan kerja yang ideal untuk mencegah kecelakaan.

Donor mata, khususnya kornea, adalah tindakan mulia yang dapat memberikan harapan baru bagi mereka yang mengalami gangguan penglihatan. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan semakin banyak masyarakat yang mau berpartisipasi dalam program ini. Selain itu, kesadaran akan pentingnya perlindungan mata perlu terus ditingkatkan untuk mencegah gangguan penglihatan akibat kecelakaan atau infeksi.

Donor mata bukan hanya tentang memberi, tetapi juga berbagi cahaya kehidupan bagi mereka yang membutuhkan.