Ragam  

Pengurangan Bahaya Rokok Diusulkan Sebagai Kebijakan Nasional untuk Kurangi Dampak Kesehatan

Jakarta, tiradar.id – Strategi pengurangan bahaya tembakau atau tobacco harm reduction dinilai dapat menjadi pelengkap penting dalam kebijakan pengendalian rokok nasional, guna menekan angka kematian akibat merokok yang masih tinggi di Indonesia. Pendekatan ini dinilai sebagai langkah realistis bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti total dari konsumsi rokok konvensional.

Pemerhati kesehatan masyarakat dr. Tri Budhi Baskara mengungkapkan hal tersebut menanggapi laporan internasional Lives Saved, yang menunjukkan potensi penyelamatan ratusan ribu nyawa jika strategi pengurangan bahaya diterapkan secara optimal bersamaan dengan kebijakan pengendalian tembakau.

“Dalam kasus di mana penghentian total tidak dapat segera dicapai, produk alternatif seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin dapat menjadi jembatan untuk beralih dari merokok,” ujar dr. Tri Budhi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (15/7).

Ia menambahkan bahwa Indonesia hingga kini belum menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah perokok aktif, meski berbagai larangan dan kampanye berhenti merokok telah dilakukan. Oleh karena itu, menurutnya dibutuhkan pendekatan yang lebih realistis dan berbasis bukti ilmiah.

“Banyak perokok ingin berhenti, tapi mengalami kekambuhan karena nikotin bersifat adiktif. Tanpa alternatif yang lebih rendah risiko, mereka cenderung kembali merokok,” jelasnya.

Laporan Lives Saved berjudul “Saving 600,000 Lives in Nigeria and Kenya: The Impact of Complementing Tobacco Control with Harm Reduction by 2060” mengestimasikan lebih dari 600 ribu nyawa bisa diselamatkan di Nigeria dan Kenya jika strategi pengurangan bahaya diterapkan secara terintegrasi hingga tahun 2060. Laporan tersebut disusun oleh Dr. Derek Yach, mantan pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menekankan perlunya inovasi dalam kebijakan pengendalian tembakau.

“Penggunaan rokok tetap menjadi faktor utama penyakit dan kematian dini, bahkan dalam dekade-dekade mendatang, jika tidak diimbangi dengan pendekatan berbasis solusi,” demikian isi laporan tersebut.

Dengan populasi gabungan Nigeria dan Kenya yang mencapai 281 juta jiwa, tercatat lebih dari 38 ribu kematian dini akibat rokok terjadi setiap tahun. Situasi serupa juga menjadi tantangan besar di Indonesia, yang merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok aktif terbesar di dunia.

Menurut dr. Tri Budhi, laporan ini bisa menjadi momentum untuk membuka diskusi yang lebih luas di Indonesia mengenai pentingnya mengintegrasikan strategi pengurangan bahaya tembakau ke dalam kebijakan kesehatan nasional.

“Selain menyelamatkan nyawa, pendekatan ini juga membuka peluang untuk menurunkan beban ekonomi akibat penyakit terkait rokok,” pungkasnya.