Indonesia-Uni Eropa Sepakati Perjanjian Dagang I-EU CEPA, UMKM Diuntungkan Tarif Nol Persen

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen dalam pertemuan bilateral dengan para pemimpin Uni Eropa di Markas Besar Uni Eropa, Brussels, Belgia, Minggu, 13 Juli 2025. (Foto: istimewa)

Jakarta, tiradar.id — Indonesia dan Uni Eropa resmi menyepakati penyelesaian perjanjian perdagangan bebas Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) setelah 19 putaran negosiasi selama hampir 10 tahun.

Kesepakatan ini disebut sebagai langkah strategis, terutama karena menghapus tarif ekspor hingga 0% untuk sekitar 80% produk Indonesia, termasuk produk unggulan UMKM seperti tekstil, alas kaki, kopi, kakao, dan hasil perikanan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Rolliansyah Soemirat, menyatakan bahwa kesepakatan ini akan memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia-Uni Eropa di tengah kondisi global yang dinamis. “Ini momentum strategis di tengah tantangan geopolitik dan geoekonomi,” ujarnya.

Negosiasi sempat terhambat isu lingkungan dan kebijakan ekspor mineral, namun berhasil disepakati dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Brussels pada 12–13 Juli 2025. Penandatanganan resmi akan dilakukan pada September 2025 bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Kesepakatan ini juga mencakup perluasan akses pasar sektor jasa, digital, otomotif, serta kemudahan visa multiple-entry ke 27 negara Uni Eropa, dan kerja sama regulasi perdagangan.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyebut kesepakatan ini sebagai game changer, yang akan mendorong peningkatan ekspor lebih dari 50% dalam 3–4 tahun ke depan dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Namun, ia menekankan pentingnya kesiapan sektor domestik, terutama dalam memenuhi standar mutu dan keberlanjutan yang ditetapkan Uni Eropa. “Aspek lingkungan hidup dan pemanfaatan energi terbarukan harus jadi perhatian,” tegasnya.

Pelaku UMKM menyambut baik kesepakatan ini, meski menyadari tantangan berat dalam memenuhi standar ekspor Uni Eropa. Annisa Pratiwi, co-founder Ladang Lima, menyebut perjanjian ini memberi harapan di tengah tekanan pasar AS akibat kebijakan Tarif Trump. Namun, ia menilai dukungan pemerintah tetap krusial dalam peningkatan kualitas produk UMKM agar dapat bersaing di pasar Eropa.