Jakarta, tiradar.id — Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan peluncuran prangko bertema “Para Pendiri Bangsa” di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Selasa (12/8). Prangko ini digagas sebagai upaya menghidupkan kembali potret sejarah yang menjadi bagian penting dari memori kolektif bangsa Indonesia.
“Kita ingin sejarah kita tetap hidup, tetap menjadi bagian yang sangat penting dalam memori kolektif bangsa. Salah satunya lewat prangko dan benda-benda filateli yang memotret peristiwa bersejarah,” ujar Fadli Zon dalam sambutannya.
Menurut Fadli, pemerintah belum pernah sebelumnya menerbitkan prangko yang menampilkan tokoh-tokoh anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Usulan penerbitan prangko ini telah lama disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk komunitas kolektor filateli, sebagai pengingat bagi generasi muda akan perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, proklamator, dan pendiri bangsa.
“Mengutip pesan Bung Karno, jangan pernah meninggalkan sejarah. Saya kira kita semua sepakat bahwa sejarah ini penting bagi generasi muda bangsa kita,” tegasnya.
Peluncuran prangko ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Acara turut dihadiri oleh 17 perwakilan keluarga tokoh pendiri bangsa, di antaranya keluarga Soekarno, Mohammad Hatta, Soetardjo Kartohadikoesoemo, Radjiman Wedyodiningrat, Oto Iskandar Di Nata, Iwa Koesoemasoemantri, Muhamad Yamin, Hoesein Djajadiningrat, Martini Djojohadikoesomo, Abdoerahman Baswedan, KH Wahid Hasyim, Hindromartono, Sartono, Wiranatakusumah, KH Ahmad Sanoesi, KH Abdoel Halim, dan Teuku Muhammad Hasan.
Prangko edisi khusus ini menggunakan jenis prisma, yakni prangko bukti bea pengiriman pos yang juga berfungsi mengabadikan peristiwa atau figur, dengan penerbitan secara personal. Total terdapat 80 kopur (unit prangko) yang diterbitkan, menampilkan 79 tokoh anak bangsa serta satu prangko bergambar gedung tempat berlangsungnya persidangan BPUPKI.


