Satellit Starlink Masuk Indonesia, Apa Dampaknya pada Satelit Satria?

Ilustrasi. Kominfo mengungkap nasib Satelit Satria apabila layanan internet Starlink milik Elon Musk masuk ke Tanah Air. (Foto: Tangkapan layar web kominfo.go.id/)

Jakarta, tiradar.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Indonesia telah mengungkapkan nasib Satelit Satria-1 setelah munculnya kabar tentang rencana layanan satelit Low Earth Orbit (LEO) Starlink milik Elon Musk yang akan beroperasi di Tanah Air. Starlink diharapkan akan menyediakan akses internet ke wilayah Terpencil, Terdepan, dan Terluar (3T) di Indonesia, menjawab kebutuhan penting akan konektivitas di daerah-daerah terpencil.

Menkominfo Budi Arie Setiadi menjelaskan bahwa Satelit Satria-1, yang diluncurkan pada bulan Juni lalu, tetap akan menjadi kebutuhan penting untuk konektivitas pemerintah. Ini mencakup sekolah, Puskesmas, rumah sakit, dan lokasi yang sulit dijangkau oleh jaringan fiber optik. Kondisi ini muncul karena perubahan rencana dalam rangka penyediaan akses internet yang lebih luas di seluruh negeri.

Saat ini, kecepatan internet di Indonesia masih memiliki tantangan besar. Budi Arie Setiadi menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat ke-98 dalam hal kecepatan internet di seluruh dunia. Bahkan, Indonesia berada di urutan sembilan negara dengan kualitas kecepatan internet yang lambat. Ini adalah peringatan bahwa infrastruktur telekomunikasi di Indonesia harus merata hingga ke seluruh wilayah untuk memastikan semua warga memiliki akses yang setara.

Penghadiran Starlink di Indonesia, menurut Kominfo, tidak akan mengganggu bisnis telekomunikasi di dalam negeri. Semua perusahaan, termasuk operator seluler besar seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Axiata, akan terus berkompetisi dengan Starlink. Ini adalah langkah yang sejalan dengan semangat kompetisi sehat dan memberikan yang terbaik untuk pelayanan masyarakat.

Starlink, sebagai salah satu inisiatif Elon Musk, akan digunakan untuk masyarakat khusus di daerah yang terpencil, terdepan, dan terluas (3T). Pembicaraan antara pemerintah Indonesia dan Elon Musk masih berjalan, dan kunjungan Musk ke Indonesia untuk membahas proyek satelit internet Starlink telah diantisipasi pada bulan Oktober mendatang.

Penting untuk dicatat bahwa hadirnya Starlink di Indonesia merupakan langkah yang positif untuk memperluas akses internet ke daerah yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, pemerintah tetap memegang komitmen untuk memastikan bahwa semua kebutuhan konektivitas, terutama di tingkat pemerintah, terpenuhi. Satelit Satria-1 tetap menjadi salah satu solusi yang sangat penting dalam menjawab tantangan konektivitas di seluruh negeri, dan komitmen ini akan terus diperkuat.