Profil  

Saudah Binti Zam’ah, Istri Rasulullah yang Taat dan Bijaksana

Ilustrasi wanita muslimah berhijab. (Foto: Net)

Subang, tiradar.id – Saudah Binti Zam’ah adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang taat serta bijaksana. Ia adalah wanita yang dinikahi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah Khadijah.

Saudah dahulu mempunyai suami bernama As Sakran bin Amr bin Abdu Syams. Kemudian Saudah dinikahi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada usia sekitar 55 tahun.

Saudah sangat mentaati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Misalnya, setelah berhaji bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ia diminta untuk berdiam di rumah, ia pun tidak berhaji lagi setelah itu.

Saudah pun menjalankan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33)

Saudah adalah termasuk wanita yang pertama masuk Islam. Ia dikenal cerdas dan memiliki pergaulan yang baik.

Saking bijaksananya, Saudah pernah merelakan malam giliran miliknya pada Aisyah demi mendapatkan keridhaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Saudah begitu baik dan bijaksana, sehingga dia mendahulukan yang lainnya daripada dirinya sendiri padahal ia butuhkan, seperti memberikan jatah malamnya kepada istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lain.

Dalam Al Qur’an terdapat ayat khusus yang turun berkenaan dengan Saudah yaitu firman Allah,

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ و

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An Nisa’: 128)

Saudah merasa khawatir diceraikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga ia menghibahkan malam miliknya pada Aisyah.

Selain itu, Saudah juga rajin ibadah sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rumahnya. Ia sibukkan diri dengan tahajud dan ibadah sampai-sampai tidak mengetahui berbagai fitnah yang terjadi di luar.

Saudah wafat pada masa pemerintah Khalifah Umar bin Khattab atau sekitar tahun 54 Hijriyah.(*)