Jakarta, tiradar.id – Insiden tragis menimpa penerbangan Jeju Air 7C2216 pada 29 Desember di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan. Pesawat Boeing 737-800 yang berangkat dari Bandara Suvarnabhumi, Thailand, berubah menjadi bola api saat melakukan pendaratan darurat dan menabrak dinding. Dari 175 penumpang dan enam awak yang berada di dalam pesawat, hanya dua awak yang berhasil selamat.
Kecelakaan ini diduga disebabkan oleh serangan burung, memperkuat reputasi Bandara Muan sebagai bandara dengan tingkat serangan burung tertinggi di antara 14 bandara regional di Korea Selatan. Meski hanya mencatat 10 insiden tabrakan burung sejak 2019, tingkat kejadian relatif terhadap jumlah penerbangan mencapai 0,09 persen – tertinggi di antara bandara regional lainnya.
Sebagai perbandingan, Bandara Gimhae yang mengalami 147 tabrakan burung hanya mencatat tingkat kejadian 0,03 persen. Sementara Bandara Jeju dan Gimpo, dengan jumlah penerbangan yang jauh lebih tinggi, memiliki tingkat tabrakan masing-masing 0,01 persen dan 0,02 persen.
Pakar lingkungan menyoroti bahwa lokasi Bandara Muan yang dekat pantai barat, dataran luas, dan kawasan lumpur menjadi daya tarik bagi burung migran. Namun, ahli transportasi Lee Geun-young menegaskan bahwa serangan burung bukanlah masalah eksklusif Bandara Muan. Bandara lain seperti Incheon, Gimpo, dan Gimhae juga berada di kawasan yang berpotensi memiliki habitat burung migran.
Dari total 559 insiden tabrakan burung di 14 bandara regional Korea Selatan sejak 2019, hanya 20 insiden (3,58 persen) yang mengakibatkan kerusakan pesawat. Kendati demikian, tabrakan burung tetap menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan.
Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mencatat 97.751 serangan burung terjadi secara global antara 2008 dan 2015. Meski berbagai langkah seperti radar deteksi burung dan pengelolaan habitat telah diterapkan, tantangan besar masih ada dalam mencegah insiden serupa di masa depan.
Seruan untuk penelitian lebih lanjut mengenai ekosistem burung dan pengelolaan lingkungan bandara semakin meningkat. Langkah ini dianggap penting untuk memastikan keselamatan penerbangan dan meminimalkan risiko serangan burung di masa mendatang.


