Ragam  

Mengenal Cancel Culture yang Dialami Artis Korea Kim Sae Ron Sebelum Tewas

Jakarta, tiradar.id – Aktris Korea Selatan, Kim Sae Ron, ditemukan meninggal dunia pada Minggu (16/2/2025). Sebelum kematiannya, Kim Sae Ron sempat menjadi sasaran cancel culture akibat keterlibatannya dalam kasus mengemudi dalam keadaan mabuk.

Kecelakaan dan Dampak Cancel Culture

Pada Rabu (18/5/2022), Kim Sae Ron mengalami kecelakaan tunggal di Persimpangan Hakdong, Gangnam-gu, Seoul. Mobil yang dikendarainya menabrak berbagai fasilitas umum, termasuk pagar pembatas jalan, pohon, dan trafo listrik. Setelah kejadian tersebut, pihak kepolisian menangkapnya, dan hasil tes darah menunjukkan kadar alkohol 0,2 persen—jauh melebihi batas legal sebesar 0,08 persen.

Akibat insiden ini, Kim Sae Ron menghadapi kecaman publik yang besar. Ia kehilangan beberapa kontrak kerja dan ditarik dari berbagai proyek hiburan. Gelombang kebencian yang muncul sebagai bagian dari cancel culture semakin memperburuk kondisi mentalnya.

Apa Itu Cancel Culture?

Cancel culture adalah fenomena di mana seseorang atau entitas—seperti selebriti, merek, atau organisasi—menghadapi boikot atau kecaman besar-besaran karena dianggap melakukan tindakan yang tidak etis atau bertentangan dengan norma sosial. Biasanya, individu yang terkena cancel culture kehilangan reputasi, pekerjaan, atau dukungan publik.

Sebagian orang menganggap cancel culture sebagai bentuk akuntabilitas sosial untuk menuntut pertanggungjawaban atas tindakan seseorang. Namun, ada pula yang melihatnya sebagai tindakan berlebihan yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang tanpa memberikan kesempatan untuk klarifikasi atau perbaikan.

Sejarah Singkat Cancel Culture

Fenomena cancel culture sudah ada sejak awal abad ke-21 di Tiongkok dengan istilah renrou sousuo, yang berarti pengumpulan informasi daring oleh netizen untuk menghukum individu yang dianggap bersalah. Di Amerika Serikat, cancel culture semakin populer pada 2017 ketika banyak selebriti diboikot akibat tindakan atau pernyataan kontroversial.

Dampak Cancel Culture

Cancel culture memiliki dampak positif dan negatif. Di satu sisi, fenomena ini dapat mendorong kesadaran sosial dan menekan perubahan, seperti ketika ajang Oscar 2016 diboikot karena kurangnya keberagaman nominasi. Namun, di sisi lain, cancel culture juga bisa berujung pada perundungan digital (cyberbullying), menyebabkan tekanan psikologis berat, bahkan meningkatkan risiko kecemasan, depresi, hingga keinginan bunuh diri.

Kasus Kim Sae Ron menunjukkan sisi gelap cancel culture, di mana tekanan sosial yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap kondisi mental seseorang. Hal ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi kesalahan seseorang serta memberikan ruang bagi mereka untuk belajar dan memperbaiki diri.