
BANDUNG, TIRADAR.ID – Di tengah deretan rumah padat di Jalan Terusan Ciliwung, Bandung, ada sebuah tempat yang berbeda dari kafe kebanyakan. Halamannya luas, pohonnya besar, suasananya tenang, dan obrolan para pengunjung menyatu dengan aroma kopi. Inilah Neduh Kopi, coffee shop yang tumbuh dari halaman rumah dan kini menjadi ruang nyaman untuk bekerja, berkumpul, hingga berkreasi.
Konsep Rumah Menjadi Kafe Nyaman
Neduh Kopi lahir dari observasi sederhana: halaman rumah yang ma
sih rindang di tengah kepadatan kota. Ridzky Ahdhan (36), sang pemilik, awalnya tidak berniat membuka kafe besar. Ia hanya ingin memaksimalkan ruang rumahnya yang punya karakter alamiah.
“Pohon besar cuma ada di halaman rumah saya. Jadi namanya Neduh, karena meneduhkan,” kata Ridzky.
Sejak dibuka pada 2019, Neduh Kopi menawarkan suasana santai khas rumah: pengunjung bisa duduk di halaman, membuka laptop, atau sekadar melepas penat ditemani kopi.
Pandemi Mengubah Arah, Jemput Bola Jadi Penyelamat
Tak lama setelah grand opening, pandemi Covid-19 memperlambat langkah Neduh Kopi. PPKM membuat kedai harus tutup hanya seminggu setelah beroperasi.
“Baru seminggu buka, langsung disuruh tutup,” ucap Ridzky mengingat momen sulit itu.
Namun Neduh Kopi tidak berhenti. Ridzky menghubungi pelanggan satu per satu, menawarkan minuman melalui layanan pesan antar. Tim kecilnya berkeliling mengantar pesanan ke rumah-rumah, membuat kedai tetap hidup di masa sulit.
“Konsumen tetap kita layani dari rumah. Kita kirim langsung,” katanya.
Strategi jemput bola ini berlangsung hampir setahun hingga kondisi pandemi mulai mereda pada 2021.
Bangkit dan Berbenah Setelah Pandemi
Saat kedai kembali dibuka, Ridzky melakukan banyak penyesuaian. Area outdoor ditata, fasilitas diperbaiki, dan suasana dibuat lebih proper agar pengunjung semakin betah.
“Kalau dulu kayak kaki lima, pakai kursi bakso, seadanya. Sekarang sudah lebih proper,” ujarnya sambil tersenyum.
Transformasi ini membuat Neduh Kopi tidak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga ruang kreatif untuk rapat komunitas, bekerja jarak jauh, hingga diskusi santai anak muda.
Pengalaman Kreatif Sang Pemilik
Sebelum mengelola kafe, Ridzky sudah terbiasa berbisnis. Ia pernah membuka barbershop pada 2012 dan usaha kuliner pada 2015. Sebagai desainer grafis, ia terbiasa menggarap branding, visual, dan strategi komunikasi.
Modal ini membuat Neduh Kopi berkembang lebih cepat pada 2019, apalagi dengan kehadiran partner berlatar barista untuk meracik menu-menu unggulan.
“Menu sudah di-handle partner saya. Jadi R&D menu sudah qualified,” jelasnya.
Menu Favorit: Kojo, Kopi Hejo Andalan
Dari berbagai menu, Kojo-akronim dari “kopi hejo”, menjadi salah satu yang paling dicari. Campuran kopi dan green tea ini menghasilkan rasa unik yang segar dan mudah diterima semua kalangan.
“Dalam bahasa Sunda, Kojo itu andalan. Tapi secara literal kami memakainya untuk kopi hejo,” ungkap Ridzky.
Kini ia tengah menyiapkan inovasi baru berupa kopi kemasan kaleng ready to go agar Neduh Kopi bisa menjangkau lebih banyak penikmat tanpa bergantung pada kunjungan langsung.
Digital Membantu Pertumbuhan Operasional
Konektivitas digital juga punya peran dalam perjalanan Neduh Kopi. Sejak lama Ridzky menggunakan provider Indosat, dari Mentari dan M3 hingga kini Ooredoo, untuk komunikasi dan promosi kedai.
“Nomor yang dipublish untuk promosi memang nomor saya yang M3,” ucapnya.
Hal yang menarik, partner serta para karyawan pun menggunakan provider yang sama. Hasilnya, koordinasi operasional lebih ringkas dan efisien tanpa perlu bergantung pada data atau pulsa internet.
“Kalau telepon koordinasi, walaupun bukan WhatsApp calling, tetap gratis. Tidak mengurangi pulsa,” ujarnya.(supriadi)