Ragam  

Benarkan Sering Minum Soda Saat Hamil Bisa Membuat Bayi Autis?

Ilustrasi kehamilan. (ANTARA/PIXABAY/StockSnap)

Jakarta, tiradar.id – Apa yang dikonsumsi selama kehamilan dan masa menyusui seorang ibu dapat memiliki dampak signifikan pada kesehatan anaknya. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients telah mengungkap hubungan yang mungkin antara konsumsi minuman berpemanis buatan, seperti soda diet yang mengandung aspartam, selama kehamilan dan menyusui dengan diagnosis autisme pada anak laki-laki.

Autisme, atau yang lebih dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (ASD), adalah gangguan neurologis dan perkembangan yang memengaruhi pembelajaran, perilaku, dan interaksi sosial. Biasanya, diagnosis ASD ditegakkan pada anak-anak dalam dua tahun pertama kehidupan mereka.

Para peneliti dari Pusat Ilmu Kesehatan di University of Texas Health Science Center di San Antonio melakukan penelitian ini dengan mengidentifikasi 235 anak yang didiagnosis dengan ASD dan membandingkannya dengan 121 anak yang memiliki perkembangan neurologis yang tipikal. Mereka menggunakan kuesioner untuk mengevaluasi sejauh mana para ibu mengonsumsi minuman berpemanis buatan, terutama minuman diet yang mengandung aspartam, selama kehamilan dan masa menyusui.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki yang lahir dari ibu yang mengonsumsi setidaknya satu atau lebih porsi minuman berpemanis buatan atau soda diet dengan aspartam setiap hari selama kehamilan atau menyusui memiliki risiko tiga kali lebih tinggi untuk mengembangkan autisme. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik yang ditemukan pada anak perempuan.

Pentingnya dicatat bahwa studi ini tidak dapat mengesahkan bahwa minuman berpemanis buatan secara langsung menyebabkan autisme pada anak. Namun, temuan ini menimbulkan keprihatinan tentang potensi risiko yang mungkin ditimbulkan oleh konsumsi soda diet atau aspartam selama masa kehamilan.

Aspartam adalah pemanis buatan yang banyak digunakan dalam minuman diet, produk susu, es krim, pasta gigi, dan berbagai produk lainnya. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), asupan aspartam harian yang dapat diterima adalah 50 miligram per kilogram berat badan.

Meskipun aspartam populer sebagai pengganti gula non-kalori, keamanannya telah menjadi subjek perdebatan selama bertahun-tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyarankan masyarakat untuk menghindari aspartam demi mengendalikan berat badan, karena penelitian menunjukkan bahwa penggantian gula dengan aspartam mungkin tidak membantu menurunkan berat badan dalam jangka panjang.

Selain itu, Badan Penelitian Kanker WHO (IARC) telah menyoroti potensi karsinogenisitas aspartam pada manusia. Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil dan menyusui untuk mempertimbangkan konsumsi minuman berpemanis buatan dengan hati-hati dan berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat tentang potensi risiko dan manfaatnya bagi kesehatan anak mereka.