Jakarta, tiradar.id – Para dokter di bangsal bersalin rumah sakit di Gaza berjuang keras untuk mendapatkan pasokan bahan bakar dan obat-obatan bagi bayi-bayi yang baru lahir, yang berada dalam kondisi sangat rentan.
Bayi-bayi ini bisa meninggal dalam hitungan menit jika inkubator yang mereka tempati kehabisan daya listrik selama blokade Israel terhadap wilayah Palestina.
Dr. Nasser Bulbul dari Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza mengatakan, “Kami memohon kepada siapa pun yang dapat membantu kami dengan pasokan obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh unit perawatan ini, atau kami akan menghadapi bencana besar.”
Ia menekankan betapa kritisnya pasokan daya listrik ini, mengingat bahwa jika listrik padam selama lima menit, semua bayi yang berada di ruang perawatan tersebut berisiko besar.
Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ahsraf al-Qidra, saat ini ada sekitar 130 bayi baru lahir yang dirawat dalam inkubator di seluruh Jalur Gaza.
Ia juga mengungkapkan bahwa generator listrik di berbagai rumah sakit, terutama RS Shifa yang merupakan rumah sakit terbesar di antara 13 rumah sakit di Gaza, mengalami kekurangan bahan bakar dan hanya memiliki sedikit sisa di tangki.
Ahsraf al-Qidra juga menyampaikan permintaan bantuan yang mendesak: “Kami mohon bantuan bahan bakar dari seluruh dunia. Kami bahkan meminta kepada stasiun pengisian bahan bakar dan pompa bensin swasta untuk memberikan sebanyak mungkin bahan bakar yang mereka miliki demi menyelamatkan nyawa di rumah sakit-rumah sakit.”
Situasi ini menjadi semakin memprihatinkan karena Gaza telah mengalami serangan udara besar-besaran dan blokade total oleh Israel sebagai respons terhadap serangan yang dilakukan oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober.
Jalur Gaza, yang merupakan enklave kecil di Palestina dan salah satu wilayah paling padat penduduk di dunia, kini menghadapi kekurangan air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar untuk penduduknya yang berjumlah sekitar 2,3 juta orang.
Meskipun beberapa bantuan kemanusiaan telah masuk ke Gaza melalui konvoi, jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, menurut PBB.
Para dokter di RS Shifa berbagi kisah yang menyayat hati, seperti menunggu keluarga seorang bayi yang rumahnya terkena hantaman bom. Meskipun bayi tersebut selamat, ibu dan sembilan anggota keluarganya lainnya meninggal.
Kini, mereka menghadapi dilema, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang dokter yang merawat bayi itu di Facebook, “Jika bayi ini pulih, kami tidak tahu siapa yang akan merawatnya karena ia telah menjadi yatim piatu.”
Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, dengan ribuan warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel, termasuk banyak anak-anak, dan ribuan lainnya terluka.
Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), sekitar 1,4 juta dari total 2,3 juta penduduk Gaza saat ini menjadi pengungsi internal, banyak di antaranya mencari perlindungan di tempat-tempat penampungan darurat PBB yang penuh sesak.
Meskipun militer Israel telah mengimbau warga Palestina untuk pergi ke selatan Gaza demi keamanan, rumah sakit-rumah sakit tidak dapat memindahkan pasien yang sakit dan terluka, terutama mereka yang membutuhkan peralatan penopang hidup. Serangan udara Israel telah melanda seluruh Jalur Gaza, termasuk bagian selatan.
Situasi krisis ini memunculkan tantangan besar bagi warga Gaza, yang terus berjuang untuk mendapatkan perawatan medis yang mereka butuhkan di tengah konflik yang terus berkecamuk.
Sumber: Antara