Jakarta, tiradar.id – Bagi pekerja di wilayah Jabodetabek, menempuh perjalanan yang memakan waktu 1-2 jam menuju kantor setiap harinya sudah menjadi hal yang biasa. Namun, sebuah studi baru mengungkapkan bahwa mereka yang harus menempuh perjalanan ke tempat kerja selama lebih dari 1 jam rentan mengalami risiko depresi.
Dilansir dari Science Alert via CNBC Indonesia, Minggu (24/12/2023), sebuah penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 23 ribu responden di Korea Selatan menunjukkan bahwa 16 persen dari mereka yang menghabiskan waktu perjalanan selama satu jam atau lebih memiliki kecenderungan mengalami depresi. Angka ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang hanya menempuh perjalanan kurang dari 30 menit.
Peneliti kesehatan masyarakat di Inha University Korea, Dong-Wook Lee, memeriksa data peserta usia kerja dari survei perwakilan nasional yang dilakukan pada tahun 2017, Fifth Korean Working Condition Survey. Dalam penelitian tersebut, para responden diminta menjawab pertanyaan berdasarkan lima poin indeks kesejahteraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Hasil skor indeks menunjukkan bahwa seperempat dari 23.415 responden yang rata-rata menghabiskan waktu perjalanan selama 47 menit per hari, setara dengan hampir empat jam per minggu dalam waktu bekerja lima hari, melaporkan mengalami gejala depresi.
Meskipun penelitian ini tidak menyajikan hubungan sebab-akibat, terlihat bahwa kelompok laki-laki menunjukkan keterkaitan yang kuat antara jam perjalanan dan kesehatan mental, terutama bagi mereka yang belum menikah, bekerja lebih dari 52 jam per minggu, dan tidak memiliki anak.
Sementara itu, pada kelompok perempuan, waktu perjalanan yang lama terkait erat dengan gejala depresi di kalangan pekerja berpenghasilan rendah, pekerja shift, dan mereka yang memiliki anak.
Para peneliti menyatakan, “Dengan waktu luang yang lebih sedikit, orang kekurangan waktu untuk menghilangkan stres dan melawan kelelahan fisik, seperti melalui tidur, hobi, dan aktivitas lainnya,” kepada Korean Biomedical Review.
Meskipun analisis ini memperhitungkan usia, jam kerja mingguan, pendapatan, pekerjaan, dan shift kerja, faktor risiko individu lainnya seperti riwayat keluarga tidak dapat sepenuhnya diperhitungkan.
“Hubungan antara waktu perjalanan yang lama dan gejala depresi yang memburuk ditemukan lebih kuat di kalangan pekerja berpenghasilan rendah,” catat para peneliti.
Sementara itu, terkait moda transportasi, studi pada tahun 2018 terhadap hampir 4.500 responden di Inggris menemukan bahwa beralih dari transportasi umum menjadi bersepeda atau berjalan kaki dapat meningkatkan kesehatan mental.
“Mengurangi waktu dan jarak perjalanan melalui peningkatan transportasi dapat memberikan lingkungan perjalanan yang lebih baik bagi masyarakat dan meningkatkan kesehatan mereka,” demikian kesimpulan para peneliti.


