Ragam  

Pentingnya Pemilihan Nutrisi yang Tepat Selama Kehamilan

Ilustrasi kehamilan. (ANTARA/PIXABAY/StockSnap)

Jakarta, tiradar.id – Mengonsumsi kacang-kacangan selama masa kehamilan diakui dapat meningkatkan kadar besi dalam darah, sebuah aspek yang penting untuk kesehatan ibu dan janin. Namun, perlu diingat bahwa konsumsi berlebihan kedelai dalam bentuk utuh dapat menimbulkan risiko terhadap masalah genitalia pada janin laki-laki.

Dalam diskusi daring yang melibatkan dokter spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. Noroyono Wibowo, Sp.OG Subsp KFm (K) menjelaskan bahwa kedelai murni mengandung genistein, pemicu tumbuhnya fitoestrogen. Konsumsi yang berlebihan dapat meningkatkan risiko masalah genitalia atau saluran kencing pada janin laki-laki sebanyak 3 persen.

Bagi ibu hamil dengan janin perempuan, mengonsumsi kedelai utuh juga berisiko mendapatkan menstruasi lebih cepat saat dewasa karena terpapar estrogen lebih tinggi selama masa kehamilan.

Noroyono menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi yang seimbang selama kehamilan, bukan hanya untuk zat besi, tetapi juga protein, lemak, mineral, dan karbohidrat. Sumber zat besi yang mudah diserap oleh tubuh, seperti daging merah, perlu menjadi bagian penting dari pola makan ibu hamil dengan kebutuhan minimal 400 gram daging.

Selain daging, asupan zat besi dapat berasal dari sayuran, kacang, atau telur, karena zat besi memerlukan pengikat protein untuk dapat mengalir dengan baik dalam darah.

Meskipun demikian, harganya yang kadang mahal membuat beberapa ibu mengalami defisiensi zat besi, yang sangat penting untuk pertumbuhan janin. Noroyono mengingatkan bahwa anemia dapat terjadi pada trimester 1 jika kurang dari 11 miligram zat besi, dan di trimester 2 jika kurang dari 10,5 miligram.

Untuk menjaga kadar zat besi dalam tubuh, Noroyono menyarankan pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL) untuk menentukan apakah seseorang mengalami anemia defisiensi zat besi atau tidak.

Selain itu, kelebihan zat besi juga dapat menimbulkan masalah, termasuk risiko tekanan darah tinggi bagi ibu hamil dan risiko kematian bayi sebelum lahir akibat talasemia. Sebanyak 25 persen anak yang lahir dari ibu penderita talasemia dapat menderita talasemia mayor, yang memerlukan transfusi darah setiap minggu.

Noroyono juga memperingatkan bahwa kelebihan zat besi dapat menyebabkan oksidasi lemak dan menjadi racun dalam tubuh, karena protein tidak dapat mengikatnya dengan baik. Oleh karena itu, pemilihan nutrisi yang tepat selama kehamilan menjadi kunci penting untuk menjaga kesehatan ibu dan perkembangan janin.

Sumber: ANTARA