Ragam  

Berhentilah Mengukur Kebahagiaan Berdasarkan Standar Orang Lain

Jakarta, tiradar.id – Semakin menggila adalah tekanan sosial yang memaksakan standar kebahagiaan pada individu. Dalam sebuah seminar edukasi yang diadakan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ahli kesehatan jiwa dari RSUD Tarakan Jakarta dan Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit Jakarta menyuarakan pesan penting: hentikan kebiasaan mengukur kebahagiaan berdasarkan standar orang lain.

Dokter spesialis jiwa, dr. Zulvia Oktanida Syarif, dan dr. Yenny Sinambela menyoroti bahwa tekanan untuk mencapai standar yang ditetapkan oleh masyarakat seringkali menjadi penghambat utama kebahagiaan seseorang.

“Masyarakat seringkali menempatkan tekanan pada individu untuk mencapai pencapaian-pencapaian tertentu pada usia tertentu, seperti menikah, memiliki pekerjaan, atau bahkan memiliki anak. Hal ini hanya akan menghambat kemampuan kita untuk merasa bahagia,” ujar dr. Zulvia, atau yang akrab disapa dr. Vivi seperti yang dilansir dari laman ANTARANews.com, dikutip Senin (29/4/2024).

Menurut dr. Yenny, setiap individu memiliki keunikannya sendiri-sendiri, dan mengejar standar yang ditetapkan oleh orang lain hanya akan menghasilkan kegagalan dan ketidakbahagiaan. “Kita harus belajar menerima diri kita sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Merasa bahagia tidak harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain,” tambahnya.

Dalam era digital seperti sekarang, pengaruh media sosial semakin memperkuat ekspektasi-ekspektasi tersebut. Aktivitas seperti flexing, yaitu memamerkan gaya hidup mewah, seringkali memunculkan anggapan bahwa kebahagiaan dapat diukur dari kemewahan materi. Namun, hal tersebut justru bertentangan dengan esensi sebenarnya dari kebahagiaan.

Penyelenggaraan acara Jakarta Berjaga oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebahagiaan pribadi mereka. Melalui acara tersebut, diharapkan permasalahan kesehatan mental di Jakarta dapat diminimalkan.

Data menunjukkan bahwa Jakarta masuk dalam daftar 10 kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia. Risiko tersebut semakin diperparah dengan riset global yang menyatakan bahwa kesehatan mental menjadi masalah kesehatan yang paling mengkhawatirkan, bahkan mengalahkan kanker.

Oleh karena itu, melalui program Jakarta Berjaga, Dinkes DKI Jakarta berupaya memberikan pendekatan holistik terhadap kesehatan mental masyarakat, salah satunya dengan menyelenggarakan seminar edukasi mengenai cara mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dengan demikian, diharapkan masyarakat Jakarta dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik akan pentingnya menerima diri sendiri dan mengejar kebahagiaan yang sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan pribadi, bukan berdasarkan standar orang lain.

Sumber: ANTARA