Jakarta, tiradar.id – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, menekankan pentingnya pengembangan platform digital berbasis sejarah dan spiritualitas guna mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya. Hal ini disampaikan Irene dalam dialog bersama perwakilan inisiatif Jejak Buddha Nusantara di Autograph Tower, Jakarta, pada Kamis (12/6).
Menurut Irene, platform seperti Jejak Buddha Nusantara memiliki potensi besar untuk menghadirkan pengalaman kreatif yang tidak hanya edukatif, tetapi juga membawa dampak sosial. “Saya melihat inisiatif seperti Jejak Buddha Nusantara sangat potensial untuk menciptakan pengalaman kreatif yang edukatif sekaligus berdampak sosial,” ujarnya dalam siaran pers resmi Kementerian Ekonomi Kreatif yang diterima Minggu (15/6).
Irene mengusulkan agar pengembangan platform ini dilakukan secara informatif, emosional, dan imajinatif. Ia menyoroti pentingnya penguatan narasi digital, eksplorasi konten multimedia, serta aktivasi publik melalui pendekatan lintas platform untuk menjangkau lebih banyak audiens, termasuk pasar global.
“Inisiatif lokal seperti ini bila dikembangkan dengan pendekatan yang tepat, sangat mungkin menjangkau pasar internasional,” katanya.
Lebih jauh, Irene menegaskan bahwa ekonomi kreatif berbasis budaya harus menjadi mesin pertumbuhan baru (the new engine of growth) bagi Indonesia. Ia mendorong berbagai pihak untuk mendukung pemanfaatan nilai-nilai sejarah dan warisan budaya secara inovatif dan relevan.
Sementara itu, Produser Jejak Buddha Nusantara, Alim Sudio, menjelaskan bahwa platform ini dirancang bukan sekadar katalog situs bersejarah, tetapi juga sebagai ruang interaksi publik dan promosi ekonomi kreatif lokal. Platform ini direncanakan mencakup berbagai fitur seperti direktori destinasi, narasi sejarah, informasi lingkungan situs, forum publik, rekomendasi wisata, ulasan pengguna, integrasi media sosial, hingga etalase produk kreatif daerah.
“Platform ini kami desain tidak hanya sebagai media edukasi, tetapi juga sebagai cara untuk mendorong partisipasi publik dalam merawat dan menghidupkan kembali situs-situs bersejarah,” ungkap Alim.
Dengan dukungan Kemenparekraf, diharapkan Jejak Buddha Nusantara dapat menjadi contoh inovasi digital berbasis sejarah dan budaya yang mampu mengangkat potensi lokal ke panggung global.
