Jakarta, tiradar.id – Lukman Leong, seorang Analis Pasar Mata Uang, menyatakan bahwa kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China dan prospek suku bunga bank sentral AS, The Fed, menyebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Dia mengungkapkan bahwa China menurunkan suku bunga pinjaman sebesar 10 bps sebagai respons terhadap perlambatan ekonomi. Hal ini disampaikannya saat diwawancarai oleh Antara di Jakarta pada hari Selasa.
Menurutnya, perlambatan ekonomi China disebabkan oleh permintaan domestik dan global yang masih lemah, terkait dengan ekspor dan impor. Goldman Sachs juga menurunkan proyeksi pertumbuhan China yang cukup besar pada hari Minggu (18/6).
Dia mengungkapkan bahwa sentimen ini dapat berlangsung cukup lama mengingat China merupakan ekonomi terbesar di Asia dan kedua terbesar di dunia. Namun, pasar tentunya telah mengantisipasinya kecuali situasinya semakin memburuk. Hal ini akan terus menjadi perhatian para investor.
Dalam konteks Amerika Serikat (AS), para investor masih menunggu penjelasan Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam sidang di kongres AS pada hari Kamis (22/6).
Lukman menyatakan bahwa diperkirakan Powell akan memberikan penjelasan mengenai kebijakan suku bunga The Fed ke depan, mengingat FOMC (Federal Open Market Committee) minggu lalu memberikan sinyal adanya dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Jika terjadi kenaikan suku bunga, hal ini akan menjadi beban bagi rupiah mengingat Bank Indonesia sudah berencana menurunkan suku bunga. Lukman menjelaskan bahwa divergensi kebijakan suku bunga antara Bank Indonesia dan The Fed akan menekan nilai tukar rupiah. Tanpa menurunkan suku bunga, suku bunga Bank Indonesia akan sama dengan The Fed jika The Fed menaikkannya dua kali.
Pada hari Selasa pagi, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah sebesar 0,36 persen atau 54 poin menjadi Rp14.994 per dolar AS, dibandingkan dengan sebelumnya Rp14.940 per dolar AS. (*)
Berita ini sudah dimuat di ANTARANews.com dengan judul Rupiah lemah terhadap dolar AS karena khawatir ekonomi China lambat


