Bangunan heritage Belanda, Seabad bendung Walahar Karawang bernilai sejarah

Bangunan heritage Belanda, Bendung Walahar Karawang di bangun tahun 1920 silam
oppo_0

Karawang, tiradar.id. Perayaan seabad Bendung Walahar di Kabupaten Karawang Jawa Barat, Selasa (25/11/2025), dimanfaatkan sejumlah awak media dan mahasiswi dari Universitas Padjadjaran Bandung jurusan ilmu komunikasi, untuk memotret berbagai sudut bangunan dan mengorek alur sejarah bangunan heritage peninggalan kolonial Belanda yang di bangun tahun 1920 silam.

Perum Jasa Tirta II selaku pengelola ternyata memiliki dua bangunan bendung bernilai sejarah peninggalan Belanda, yakni bendung Walahar di Kabupaten Karawang dan bendung Salam Darma di perbatasan Kabupaten Subang dan Indramayu, dimana kedua bendung ini telah didaftarkan sebagai situs cagar budaya.

Kemegahan bangunan heritage peninggalan pemerintah kolonial Belanda terlihat di bendung Walahar di Kabupaten Karawang Jawa Barat, dimana bendung Walahar kali Citarum ini di bangun pada tahun 1920 dan diresmikan pada 30 November tahun 1925 silam.

Tujuan keberadaan bendung Walahar ini untuk mengairi lahan pertanian di Kabupaten Karawang, dengan cakupan luas kurang lebih 174 ribu 276 Hektar per tahun.

Bahkan, fungsi bendung Walahar ini meluas hingga memasok air baku bagi PDAM di seluruh wilayah Karawang.

Haura Shofa Hafizhah seorang mahasiswi dari Universitas Padjadjaran Bandung jurusan ilmu komunikasi yang diberikan kesempatan untuk memotret bangunan bendung Walahar, juga menggali alur sejarahnya mengakui, bahwa dirinya sangat terkesan terhadap bangunan heritage peninggalan Belanda ini, termasuk menambah wawasan perbedaan dari bendung dan bendungan yang dijabarkan pihak PJT II selaku pengelola.

“Saya jadi tahu antara perbedaan bendung dan bendungan, apalagi bendung Walahar ini bernilai sejarah sehingga sebagai mahasiswi memiliki kewajiban untuk turut andil dalam pelestariannya,” ungkap Haura.

Direktur Utama PJT II, Imam Santoso menjelaskan, bahwa peringatan 100 tahun bendung Walahar Karawang bukan hanya sekedar refleksi sejarah, tetapi momentum untuk mempertegas komitmen perusahaan dalam menjaga ketahanan air nasional.

“Menyinggung soal dua bangunan heritage peninggalan Belanda, yakni bendung Walahar Karawang dan bendung Salam Darma di perbatasan Subang dan Indramayu, pihak PJT II selaku pengelola telah mendaftarkan dua bendung ini sebagai situs cagar budaya,” tegas Imam Santoso.

Selain bangunan bendung Walahar Karawang yang bernilai sejarah, bangunan bendung Salam Darma di perbatasan Subang dan Indramayu tak kalah tua usianya, dimana bendung Salam Darma di bangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1923 dan mulai dioperasikan pada tahun 1927 silam. Kedua bendung ini memiliki fungsi yang sama, yakni untuk mengairi lahan pertanian, selebihnya untuk pasokan air baku. ( Supriadi )