Washington, tiradar.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran dalam sebuah operasi yang ia sebut sebagai “serangan yang sangat sukses”. Pernyataan ini disampaikan Trump melalui akun resmi Truth Social miliknya, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Trump menyebut seluruh pesawat tempur AS telah meninggalkan wilayah udara Iran setelah misi selesai dilakukan. Serangan ini terjadi setelah Israel terlebih dahulu menggempur beberapa lokasi strategis di Iran dan kemudian meminta dukungan dari Washington untuk melanjutkan operasi militer tersebut.
Israel diketahui telah berulang kali menargetkan fasilitas yang diduga berkaitan dengan program nuklir Iran. Kali ini, keterlibatan langsung AS dalam aksi militer tersebut menuai respons keras dari Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa partisipasi AS akan membawa konsekuensi berat dan memperburuk eskalasi konflik di kawasan.
Menurut laporan sejumlah media, operasi militer AS melibatkan pesawat pembom siluman B-2 serta rudal penghancur bunker yang dirancang khusus untuk menghancurkan struktur bawah tanah seperti fasilitas nuklir. Langkah ini menunjukkan kesiapan AS dalam melibatkan kekuatan militer penuh jika konflik berkembang lebih lanjut.
Ketegangan antara Iran dan Israel sendiri meningkat sejak serangan awal yang dilakukan Israel pada 13 Juni. Serangan tersebut dibalas oleh Iran dengan meluncurkan rudal ke Tel Aviv, mengakibatkan banyak korban jiwa dan luka di kedua belah pihak.
Sejumlah negara Eropa menyerukan agar Iran dan AS kembali ke meja perundingan untuk membahas isu nuklir dan mencegah meluasnya konflik. Namun, dengan keterlibatan langsung AS dalam aksi militer ini, peluang diplomasi tampak semakin kecil.
Ketegangan di kawasan kini memasuki fase krusial, dengan kemungkinan balasan dari Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah semakin terbuka. Komunitas internasional pun mengamati perkembangan ini dengan penuh kekhawatiran.
Sumber: Kyodo via ANTARA


