Vatikan, tiradar.id — Kabar duka menyelimuti umat Katolik dan masyarakat dunia setelah Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik pertama dari Amerika Latin, meninggal dunia pada Senin, 21 April 2025. Kabar wafatnya diumumkan secara resmi oleh Kardinal Kevin Farrell dari Casa Santa Marta, tempat tinggal Paus di Vatikan.
“Saudara-saudari terkasih, dengan dukacita yang mendalam saya harus mengumumkan wafatnya Bapa Suci kita, Fransiskus. Pada pukul 7.35 pagi ini, Uskup Roma, Fransiskus, kembali ke rumah Bapa,” ujar Kardinal Farrell dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa seluruh hidup Paus Fransiskus telah diabdikan untuk melayani Tuhan dan Gereja dengan kesetiaan, keberanian, dan kasih universal.
Perjalanan Panjang Melawan Penyakit
Paus Fransiskus, yang lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Argentina, telah lama berjuang dengan masalah kesehatan, khususnya terkait pernapasan. Pada tahun 1957, di usia 21 tahun, ia menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru akibat infeksi saluran pernapasan yang serius.
Seiring bertambahnya usia, Paus kerap mengalami gangguan kesehatan, termasuk pembatalan kunjungan ke Uni Emirat Arab pada November 2023 karena influenza dan radang paru-paru. Kondisinya kembali memburuk pada Februari 2025, ketika ia dirawat di Rumah Sakit Poliklinik Agostino Gemelli karena bronkitis yang berkembang menjadi pneumonia bilateral. Setelah menjalani perawatan selama 38 hari, ia kembali ke Casa Santa Marta untuk melanjutkan pemulihan, namun takdir berkata lain.
Hingga berita ini diturunkan, Vatikan belum merilis pernyataan resmi mengenai penyebab pasti wafatnya Paus Fransiskus.
Pemimpin Gereja yang Menginspirasi
Terpilih sebagai Paus pada 13 Maret 2013, Fransiskus mencatatkan sejarah sebagai paus pertama dari Amerika Latin dan ordo Yesuit. Sosoknya dikenal luas karena kesederhanaan dan kepeduliannya terhadap kaum miskin dan terpinggirkan.
Ia memilih untuk tidak tinggal di Istana Apostolik yang mewah, seperti para pendahulunya, dan lebih memilih hunian sederhana di lingkungan masyarakat Vatikan demi kesehatan psikologisnya. Kesederhanaan ini menjadi ciri khas kepemimpinannya selama lebih dari satu dekade.
Meski menghadapi kritik dari berbagai pihak—baik konservatif yang menuduhnya terlalu progresif, maupun progresif yang menilainya kurang berani melakukan reformasi—Paus Fransiskus tetap berdiri teguh dalam misinya mempromosikan dialog antaragama, perdamaian, dan keadilan sosial. Ia dikenal sebagai suara bagi mereka yang tidak bersuara: para migran, kaum miskin, dan korban ketidakadilan di seluruh dunia.
Warisan yang Tak Terlupakan
Paus Fransiskus meninggalkan warisan besar dalam sejarah Gereja Katolik dan dunia. Pesan Paskah terakhirnya pada 2025 bahkan masih menggema: harapan akan perdamaian dunia dan berakhirnya peperangan.
Kepergiannya menandai akhir dari satu era kepemimpinan yang penuh kasih, kerendahan hati, dan perjuangan untuk keadilan. Dunia kini mengenang Paus Fransiskus bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai figur moral yang berani berdiri bagi mereka yang paling membutuhkan.
Selamat jalan, Paus Fransiskus. Dunia kehilangan seorang pemimpin yang menghayati Injil dengan hati yang penuh cinta.


