Solo, tiradar.id — Duka mendalam menyelimuti Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sang Sinuhun Ingkang Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Boewono XIII, raja yang memimpin Kasunanan Surakarta, wafat pada Minggu (2/11) pukul 07.27 WIB di usia 77 tahun. Beliau menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Indriyati, Solo Baru, setelah sempat menjalani perawatan.
Juru Bicara Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Pangeran Adipati (KPA) Dhani Nuradhiningrat, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menyebut kepergian Sinuhun PB XIII menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah panjang Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
“Sinuhun Pakoe Boewono XIII mangkat kanthi tenang. Panjenenganipun pribadi ingkang sabar, welas asih, lan tansah njunjung luhur ajaran Jawa. Mugi sedaya masyarakat sami ndedonga, mugi rohipun kaparingi panggenan ingkang mulya wonten ngarsanipun Gusti Allah,” ujar KPA Dhani di Keraton Surakarta, Minggu pagi.
Sejak kabar wafatnya raja tersiar, suasana di dalam tembok keraton berubah hening. Para abdi dalem dan pengageng karaton larut dalam kesedihan. Gamelan mengalun pelan di pendhapa, dupa mengepul di Masjid Pujosono, sementara bunga melati ditabur di sepanjang jalan menuju pamunjungan. Masyarakat pun berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada raja yang dikenal bersahaja dan dekat dengan rakyat.
Rencananya, jenazah almarhum akan disemayamkan di Masjid Pujosono Kagungan Dalem, sebelum dimakamkan di Pajimatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta — kompleks makam para raja Mataram yang menjadi simbol keluhuran dan kesinambungan trah agung.
Sebelum wafat, SISKS Pakoe Boewono XIII telah menetapkan penerus takhta. Dalam peringatan Tingalan Jumenengan Dalem beberapa tahun lalu, beliau menunjuk putra mahkota Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purboyo dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibyo Raja Putra Narendra Mataram.
Dengan demikian, KGPAA Hamangkunegoro akan melanjutkan kepemimpinan Kasunanan Surakarta sebagai SISKS Pakoe Boewono XIV, meneruskan garis kebangsawanan serta tanggung jawab luhur menjaga kelestarian budaya Jawa.
Kepergian Pakoe Boewono XIII meninggalkan jejak panjang kepemimpinan yang dikenal teduh dan berwibawa. Di masa pemerintahannya, beliau berupaya memperkuat peran budaya dan spiritual keraton di tengah modernisasi Kota Surakarta.
Suasana duka masih terasa di lingkungan keraton. Ribuan pelayat dari berbagai kalangan diperkirakan akan hadir dalam prosesi pangabekten dan pemakaman Sang Raja di Imogiri, sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi salah satu tokoh penting dalam sejara
h budaya Jawa. ***


