Ragam  

Kenali Gejala Pneumonia Pada Anak, Umumnya Diawali Demam, Batuk dan Pilek

Jakarta, tiradar.id – Pakar kesehatan anak dari Kelompok Staf Medis Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Wahyuni Indawati Sp. A, Subsp. Resp, mengingatkan bahwa pneumonia pada anak umumnya dimulai dengan gejala seperti demam, batuk, atau pilek, yang kemudian diikuti oleh sesak napas. Gejala sesak napas, kata dr. Wahyuni, dapat muncul dalam 14 hari dan bersifat akut.

Sesak napas pada anak ditandai dengan usaha bernapas yang berat, seperti tarikan dinding dada saat bernapas atau adanya napas cuping hidung. Ini menjadi indikasi bahwa anak mengalami kekurangan oksigen. Jika orangtua mengamati gejala ini pada anak, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk mengidentifikasi anak yang mengalami sesak napas, orangtua dapat menghitung frekuensi napas anak dalam satu menit dengan meletakkan tangan di dada anak. Frekuensi napas yang cepat, seperti lebih dari 60 kali per menit untuk usia kurang dari 2 bulan, harus diwaspadai dan memerlukan perhatian medis.

Pencegahan dan Penanganan

dr. Wahyuni, seorang subspesialis kesehatan anak respirologi, memberikan informasi tentang pencegahan pneumonia. Pneumonia dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur, dengan virus dan bakteri menjadi penyebab paling umum. Langkah-langkah pencegahan termasuk menjaga agar infeksi tidak menyebar, seperti menggunakan masker, menjalani etika batuk dan bersin yang benar, dan mencuci tangan secara teratur.

Pencegahan penyebaran infeksi juga melibatkan kebiasaan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, terutama setelah batuk dan bersin, sebelum makan, dan setelah berada di tempat umum. Ini tidak hanya berlaku untuk orang dewasa tetapi juga untuk anak-anak.

Selain itu, pemberian ASI eksklusif, pemastian gizi yang baik, menghindari asap rokok dan polusi udara, serta memberikan imunisasi dapat efektif mencegah pneumonia. Beberapa vaksin yang dapat melindungi anak dari penyakit ini termasuk vaksin Difteri Pertusis Tetanus Hemophilus Influenza B (DPT HiB), vaksin pneumokokus (PCV), vaksin influenza, dan vaksin MR (campak rubela).

Jika seorang anak telah didiagnosis dengan pneumonia, dr. Wahyuni menekankan bahwa perawatan harus dilakukan di rumah sakit. Pasien sering mengalami sesak napas dan mungkin memerlukan suplemen oksigen. Pada kasus yang lebih parah, alat bantu napas seperti ventilator dapat digunakan di ruang rawat intensif. Selama perawatan, anak juga mungkin diberikan antibiotik, cairan sesuai kebutuhan, dan nutrisi yang cukup.

Dengan langkah-langkah pencegahan dan penanganan yang tepat, kita dapat bersama-sama melindungi anak-anak dari risiko pneumonia yang dapat berdampak serius pada kesehatan mereka.